Wawancara Bersama Orang yang Mengaku Ingin Bunuh Diri
Sumber gambar: Student Loan Hero
Malam-malam saya mendapat sebuah pesan singkat. Pesan singkat itu mengajak saya untuk bertukar pikiran. Si pengirim pesan mengajak saya bertukar pesan. Si pengirim pesan mengaku sebagai manusia depresi tingkat tinggi yang akan bunuh diri setelah menyelesaikan diskusinya dengan saya. Saya merinding. Saya akan bertukar pikiran dengan seseorang yang akan menuntaskan hidupnya. Saya yakin bahwa bunuh diri adalah tindakan laknat. Tindakan terkutuk dari orang lemah yang tolol.
Akan tetapi, pelan-pelan, saya hanyut. Orang itu mengajak saya untuk mati. Saya diajak bunuh diri atau membenarkan tindakan bunuh diri yang dilakukannya. Saya hanyut pelan-pelan dan saya mencoba pegangan erat-erat untuk tidak terbawa. Tidak, tidak. Saya harus coba untuk meyakinkan dia. Hiduplah, hidup. Hidup. Itu sudah cukup. Sayang saya tidak berhasil. Ia tetap kukuh untuk bunuh diri. Maka, pertukaran pikiran antara saya dengan dia berakhir. Percakapan pesan singkat selesai. Saya harap orang itu masih hidup. Semoga.
Disini, saya akan publikasikan percakapan saya dengan orang itu. Semoga orang itu masih hidup, dan jika masih hidup, ia akan terus menghadapi kehidupan dengan gagah berani, dan jika menghadapi kehidupan dengan gagah berani, ia akan terus memutar akalnya untuk menjadi penguasa dunia. Semoga dan semoga.
Inilah percakapan saya dengan orang itu. S itu adalah saya, O adalah orang itu.
O: Saya ingin bunuh diri.
S: Astaga! Kenapa! Kenapa kau ingin mati? Dosa! Terkutuk! Tuhan membenci itu!
O: Oh, Tuhan membenci bunuh diri toh. Berarti, Tuhan tidak membenci orang-orang bajingan laknat biadab yang selalu merusak alam, merusak dunia, membunuhi manusia satu-satu, memperkosa harapan mereka, atau menjilat Tuhan dengan jilatan selengket-lengketnya. Tuhan siapa itu, hebat banget ya.
S: Heh. Jangan bawa-bawa Tuhan! Kita cuma manusia. Kecil. Manusia di Bumi. Bumi! Planet di Tata Surya. Objek kosmik yang dikurung oleh Awan Oort. Mengekor di pusaran Galaksi Bima Sakti. Dipasung dalam kluster galaksi Virgo. Dipenjara dalam superkluster galaksi Laniakea. Kaku di dalam Alam Semesta Teramati—bahasa Inggrisnya, Observable Universe. Di langit lapis pertama. Kita, manusia, kecil!
O: Jika manusia kecil, saya adalah manusia paling kecil. Organisme hidup paling kecil. Tak ada gunanya. Sampah...
S: Lha, kok jadi mellow gini.
O: Ya, memangnya, apa gunanya saya? Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat. Saya tidak bermanfaat. Okelah kalau saya dimanfaatkan. Namun, bagi saya, bermanfaat dan dimanfaatkan itu beda. Jika saya bermanfaat, saya sudah punya nilai, nilai alami dalam diri sedari awal tanpa menunggu sebuah konteks, menunggu sebuah peristiwa, menunggu sebuah kisah. Masalahnya: Saya kosong sejak sperma. Sejak ovum. Saya dimanfaatkan itu wajar karena setiap manusia sudah dimanfaatkan sejak sperma, sejak ovum. Bayi dimanfaatkan orangtuanya sebagai penguat status, sebagai ahli waris keturunan. Agama dimanfaatkan manusia untuk tiket surga. Nilai guna itu ada karena peristiwa, karena kisah, karena konteks. Saya dimanfaatkan itu wajar karena bagian dari alur kehidupan. Saya bermanfaat itu dongeng karena pada dasarnya, sejak sperma, sejak ovum, saya kosong!
S: Masa sih...
O: Benar. Sejak saya hidup, dari embrio, saya sudah bikin susah hidup orang. Sembilan bulan ibu saya berat-berat membawa sampah yang kerjaannya cuma menangis tanpa tentu. Sampah yang menyebabkan polusi karbondioksida disebabkan nafas yang dilepasnya. Sampah gelombang suara disebabkan suara yang dipancarkannya: entah tangisan, rengek minta susu, minta jajan, minta sekolah, minta dihargai, taik sama sampah itu.
S: Kenapa kamu pengen bunuh diri?
O: Nilai saya kosong. Saya lihat orang-orang: mereka lebih dari kosong. Apa yang dilakukannya, apa yang digagasnya, apa yang dipikirkannya, apa yang dimimpikannya, berhasil. Mau ini dapat, mau itu dapat. Katanya: Segala sesuatu harus berusaha. Saya turuti. Saya usaha. Katanya: Kesabaran adalah kunci membelah gunung dengan satu jari. Saya lakukan. Saya sabar dengan proses. Namun, proses saya ini proses taik kucing. Okelah kalau proses saya itu seperti pesawat Voyager 1 yang ditugaskan untuk menjelajah alam semesta. Alam semesta yang luas, tidak sebanding dengan perjalanan Voyager 1 yang baru keluar dari Heliosphere dan sekarang, sedang berada di ruang Interstellar, menuju awan oort. Baru sampai situ empat puluh tiga tahun tanpa henti satu detik pun perjuangan Voyager 1 menjelajah alam semesta. Baru sampai ruang Interstellar—ruang antara Tata Surya dan Awan Oort. 0,000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000001% dari luas alam semesta. Empat puluh dua tahun proses Voyager 1 menjelajah alam semesta dan baru mencapai 0,000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000001% dari 100% target misi. Berapa juta tahun lagi yang diperlukan Voyager 1 untuk menuntaskan misinya: menjelajahi alam semesta yang luas? Proses sia-sia dan saya tetap salut. Voyager 1, dengan 0,000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000001% lebih bermakna dibanding manusia-manusia taik kucing yang kerjanya mondar-mandir jutaan kilometer untuk merusak bumi. Saya mirip dengan Voyager 1, bedanya: Saya kosong. Saya tidak lebih bermakna dibanding manusia-manusia taik kucing yang kerjanya mondar-mandir jutaan kilometer untuk merusak bumi. Memangnya apa yang bisa saya buat, ciptakan, hasilkan, dari proses sebanyak 1 x 10-999999999999999999999999999999999% dalam target 100% kehidupan saya yang telah dijalani selama puluhan tahun? Kosong.
S: Memangnya apa sih? Apa yang benar-benar membuat kamu selalu mencaci diri sendiri? Dari tadi merendahkan diri sehina-hinanya. Penyebabnya hal-hal abstrak. Kamu selalu bicara tentang proses-proses dan proses. Proses itu akan selalu menghasilkan hasil. Memangnya kamu Tuhan? Bisa menjamin 100% terjadinya peristiwa?
O: Tuhan itu bukan saya, memang. Saya balik bertanya: Saya ini apa? -0% (baca: negatif nol persen. Bukan nol persen!) persentase terjadinya peristiwa yang saya alami. Saya tidak pernah mencapai apa yang saya rancang, pikirkan, inginkan. Saya merasa lahir untuk penderitaan. Jika takdir saya memang itu, Tuhan menggariskan demikian, maka, maka, bukannya saya tidak terima. Cuma, dalam hati yang paling sedu, tak bisakah saya mencicipi barang sepertriliun milidetik kebahagiaan. Bukannya tidak bersyukur, tapi, tapi, saat ini, saya benar-benar tidak damai. Tersiksa. Hari-hari tidak tenang. Saya juga ingin hidup, lho. Saya justru tidak mau bunuh diri. Sumpah! Cuma saya tidak tahan. Kepala ini sakit. Pelor musket menembus kepala saya berkali-kali. Tolong, siapapun. Tolong. Cuma tidur mungkin saya bisa damai. Saya ingin seperti kucing Schrodinger mungkin: Antara dikeadaan mati dan hidup. Tidak mati, karena saya takut mati. Tidak hidup, karena hidup itu menyakitkan. Saya tidak tahan. Tolong, siapapun!
S: Masa iya kamu tidak pernah merasakan kebahagiaan? Kamu bukan pengemis. kamumakan masih bisa tiga kali sehari, sepertinya. Mungkin aroma tubuh kamuwangi. Sistem pernapasan kamu masih lancar. Oksigen masih bisa kamuhirup dan, gratis. Anggota tubuh kamu masih lengkap. Orang-orang terkasih kamu masih ada. Orang-orang masih menggantungkan harapan pada kamu. Kamu tidak mati, kamu masih dibiarkan melihat dunia fana ini. Bukankah itu kebahagiaan? Dan kamu tidak merasa bahagia? Bukankah kamu adalah makhluk kecil sombong di tengah luasnya alam semesta ini?
O: Justru itu. Kan saya sudah bilang. Biadab sekali kan saya ini? Menjijikan? Tapi saya takut mati. Saya ingin... tolong, siapapun, saya ingin..
S: Ingin apa?
Setelah itu pesan tidak dibalas. Orang itu kenapa, saya tidak tahu. Ah, ada-ada saja kelakuan anak millenial sekarang ini.
Akan tetapi, pelan-pelan, saya hanyut. Orang itu mengajak saya untuk mati. Saya diajak bunuh diri atau membenarkan tindakan bunuh diri yang dilakukannya. Saya hanyut pelan-pelan dan saya mencoba pegangan erat-erat untuk tidak terbawa. Tidak, tidak. Saya harus coba untuk meyakinkan dia. Hiduplah, hidup. Hidup. Itu sudah cukup. Sayang saya tidak berhasil. Ia tetap kukuh untuk bunuh diri. Maka, pertukaran pikiran antara saya dengan dia berakhir. Percakapan pesan singkat selesai. Saya harap orang itu masih hidup. Semoga.
Disini, saya akan publikasikan percakapan saya dengan orang itu. Semoga orang itu masih hidup, dan jika masih hidup, ia akan terus menghadapi kehidupan dengan gagah berani, dan jika menghadapi kehidupan dengan gagah berani, ia akan terus memutar akalnya untuk menjadi penguasa dunia. Semoga dan semoga.
Inilah percakapan saya dengan orang itu. S itu adalah saya, O adalah orang itu.
O: Saya ingin bunuh diri.
S: Astaga! Kenapa! Kenapa kau ingin mati? Dosa! Terkutuk! Tuhan membenci itu!
O: Oh, Tuhan membenci bunuh diri toh. Berarti, Tuhan tidak membenci orang-orang bajingan laknat biadab yang selalu merusak alam, merusak dunia, membunuhi manusia satu-satu, memperkosa harapan mereka, atau menjilat Tuhan dengan jilatan selengket-lengketnya. Tuhan siapa itu, hebat banget ya.
S: Heh. Jangan bawa-bawa Tuhan! Kita cuma manusia. Kecil. Manusia di Bumi. Bumi! Planet di Tata Surya. Objek kosmik yang dikurung oleh Awan Oort. Mengekor di pusaran Galaksi Bima Sakti. Dipasung dalam kluster galaksi Virgo. Dipenjara dalam superkluster galaksi Laniakea. Kaku di dalam Alam Semesta Teramati—bahasa Inggrisnya, Observable Universe. Di langit lapis pertama. Kita, manusia, kecil!
O: Jika manusia kecil, saya adalah manusia paling kecil. Organisme hidup paling kecil. Tak ada gunanya. Sampah...
S: Lha, kok jadi mellow gini.
O: Ya, memangnya, apa gunanya saya? Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat. Saya tidak bermanfaat. Okelah kalau saya dimanfaatkan. Namun, bagi saya, bermanfaat dan dimanfaatkan itu beda. Jika saya bermanfaat, saya sudah punya nilai, nilai alami dalam diri sedari awal tanpa menunggu sebuah konteks, menunggu sebuah peristiwa, menunggu sebuah kisah. Masalahnya: Saya kosong sejak sperma. Sejak ovum. Saya dimanfaatkan itu wajar karena setiap manusia sudah dimanfaatkan sejak sperma, sejak ovum. Bayi dimanfaatkan orangtuanya sebagai penguat status, sebagai ahli waris keturunan. Agama dimanfaatkan manusia untuk tiket surga. Nilai guna itu ada karena peristiwa, karena kisah, karena konteks. Saya dimanfaatkan itu wajar karena bagian dari alur kehidupan. Saya bermanfaat itu dongeng karena pada dasarnya, sejak sperma, sejak ovum, saya kosong!
S: Masa sih...
O: Benar. Sejak saya hidup, dari embrio, saya sudah bikin susah hidup orang. Sembilan bulan ibu saya berat-berat membawa sampah yang kerjaannya cuma menangis tanpa tentu. Sampah yang menyebabkan polusi karbondioksida disebabkan nafas yang dilepasnya. Sampah gelombang suara disebabkan suara yang dipancarkannya: entah tangisan, rengek minta susu, minta jajan, minta sekolah, minta dihargai, taik sama sampah itu.
S: Kenapa kamu pengen bunuh diri?
O: Nilai saya kosong. Saya lihat orang-orang: mereka lebih dari kosong. Apa yang dilakukannya, apa yang digagasnya, apa yang dipikirkannya, apa yang dimimpikannya, berhasil. Mau ini dapat, mau itu dapat. Katanya: Segala sesuatu harus berusaha. Saya turuti. Saya usaha. Katanya: Kesabaran adalah kunci membelah gunung dengan satu jari. Saya lakukan. Saya sabar dengan proses. Namun, proses saya ini proses taik kucing. Okelah kalau proses saya itu seperti pesawat Voyager 1 yang ditugaskan untuk menjelajah alam semesta. Alam semesta yang luas, tidak sebanding dengan perjalanan Voyager 1 yang baru keluar dari Heliosphere dan sekarang, sedang berada di ruang Interstellar, menuju awan oort. Baru sampai situ empat puluh tiga tahun tanpa henti satu detik pun perjuangan Voyager 1 menjelajah alam semesta. Baru sampai ruang Interstellar—ruang antara Tata Surya dan Awan Oort. 0,000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000001% dari luas alam semesta. Empat puluh dua tahun proses Voyager 1 menjelajah alam semesta dan baru mencapai 0,000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000001% dari 100% target misi. Berapa juta tahun lagi yang diperlukan Voyager 1 untuk menuntaskan misinya: menjelajahi alam semesta yang luas? Proses sia-sia dan saya tetap salut. Voyager 1, dengan 0,000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000001% lebih bermakna dibanding manusia-manusia taik kucing yang kerjanya mondar-mandir jutaan kilometer untuk merusak bumi. Saya mirip dengan Voyager 1, bedanya: Saya kosong. Saya tidak lebih bermakna dibanding manusia-manusia taik kucing yang kerjanya mondar-mandir jutaan kilometer untuk merusak bumi. Memangnya apa yang bisa saya buat, ciptakan, hasilkan, dari proses sebanyak 1 x 10-999999999999999999999999999999999% dalam target 100% kehidupan saya yang telah dijalani selama puluhan tahun? Kosong.
S: Memangnya apa sih? Apa yang benar-benar membuat kamu selalu mencaci diri sendiri? Dari tadi merendahkan diri sehina-hinanya. Penyebabnya hal-hal abstrak. Kamu selalu bicara tentang proses-proses dan proses. Proses itu akan selalu menghasilkan hasil. Memangnya kamu Tuhan? Bisa menjamin 100% terjadinya peristiwa?
O: Tuhan itu bukan saya, memang. Saya balik bertanya: Saya ini apa? -0% (baca: negatif nol persen. Bukan nol persen!) persentase terjadinya peristiwa yang saya alami. Saya tidak pernah mencapai apa yang saya rancang, pikirkan, inginkan. Saya merasa lahir untuk penderitaan. Jika takdir saya memang itu, Tuhan menggariskan demikian, maka, maka, bukannya saya tidak terima. Cuma, dalam hati yang paling sedu, tak bisakah saya mencicipi barang sepertriliun milidetik kebahagiaan. Bukannya tidak bersyukur, tapi, tapi, saat ini, saya benar-benar tidak damai. Tersiksa. Hari-hari tidak tenang. Saya juga ingin hidup, lho. Saya justru tidak mau bunuh diri. Sumpah! Cuma saya tidak tahan. Kepala ini sakit. Pelor musket menembus kepala saya berkali-kali. Tolong, siapapun. Tolong. Cuma tidur mungkin saya bisa damai. Saya ingin seperti kucing Schrodinger mungkin: Antara dikeadaan mati dan hidup. Tidak mati, karena saya takut mati. Tidak hidup, karena hidup itu menyakitkan. Saya tidak tahan. Tolong, siapapun!
S: Masa iya kamu tidak pernah merasakan kebahagiaan? Kamu bukan pengemis. kamumakan masih bisa tiga kali sehari, sepertinya. Mungkin aroma tubuh kamuwangi. Sistem pernapasan kamu masih lancar. Oksigen masih bisa kamuhirup dan, gratis. Anggota tubuh kamu masih lengkap. Orang-orang terkasih kamu masih ada. Orang-orang masih menggantungkan harapan pada kamu. Kamu tidak mati, kamu masih dibiarkan melihat dunia fana ini. Bukankah itu kebahagiaan? Dan kamu tidak merasa bahagia? Bukankah kamu adalah makhluk kecil sombong di tengah luasnya alam semesta ini?
O: Justru itu. Kan saya sudah bilang. Biadab sekali kan saya ini? Menjijikan? Tapi saya takut mati. Saya ingin... tolong, siapapun, saya ingin..
S: Ingin apa?
Setelah itu pesan tidak dibalas. Orang itu kenapa, saya tidak tahu. Ah, ada-ada saja kelakuan anak millenial sekarang ini.


Tidak ada komentar