Menjadi Ibu Bagi Karya Sastra
Sumber Gambar: ceritaumi.com
“Sajak Jadi Ibu/Tali meretas darah/Rasa menetas kasih/Budi meretas adat/Turunanku”
-Penggalan Puisi Sajak Beranak Jadi Ibu Puti Reno Raudha Thaib
Karya Sastra adalah produk kreatif yang menghibur sekaligus menawarkan gagasan. Gagasan dan hiburan yang ada pada karya sastra terangkum dalam sebuah dunia rekaan atau dunia imajiner yang merupakan bentuk luapan perasaan dan pikiran dari pencipta karya sastra. Karya sastra memiliki kaitan dengan kenyataan dan hal ini ada dalam kajian mimetik mengenai sastra. Berasal dari kenyataan, karya sastra mendapat banyak pembahasan mengenai hubungannya dengan pengarangnya.
Roland Barthes dalam esainya Pengarang Telah Mati (The Death of Author) yang dipublikasikan pada tahun 1967 mengemukakan bahwa karya sastra—yang merupakan kumpulan teks, apabila sudah sampai pada pembaca, maka secara otomatis pencipta karya sastra sudah terputus dengan karyanya. Gagasan Roland Barthes sejalan dengan teori semotik yang dicetuskannya. Semiotika, ilmu tanda, mengkaji karya sastra tanpa memperhatikan sisi penciptanya.
Gagasan Roland Barthes tidak bisa diterima seluruhnya, dan salah satu bentuk penolakannya terlihat dalam sebuah buku yang diterbitkan oleh Maman S. Mahayana yang berjudul Pengarang Tidak Pernah Mati yang terbit pada tahun 2012. Maman S. Mahayana mengemukakan, penyingkiran peran penulis sama dengan menganggap teks yang dibuat bisa lepas dari konteks ketika teks itu dibuat.
Akan tetapi, Pramoedya Ananta Toer memberikan sebuah pernyataan yang memberikan jalan tengah:
“...Semua itu anak-anak rohani saya. Masing-masing punya sejarahnya sendiri. Semua saya sayang.”
Pramoedya sebagai pencipta karya sastra, mengakui karyanya sebagai ‘anak’ rohaninya. Karya sastra dan penciptanya memiliki hubungan selayaknya anak dengan orangtuanya. Struktur pencipta-ciptaan dihilangkan dan dialihkan menuju struktur anak-orangtua. Secara genetik, anak sudah pasti memiliki kesamaan dengan orangtuanya yang tidak bisa dilepaskan, sedangkan secara gagasan, pemikiran, seorang anak belum tentu memiliki kesamaan. Seorang anak bisa jadi memiliki gagasan dan yang berbeda jauh dengan orangtuanya. Ada hal-hal penting yang menyebabkan seorang anak memiliki gagasan dan pemikiran yang berbeda dengan orangtuanya, meski berbagi informasi genetik yang sama.
Puisi sebagai karya sastra yang tidak sekedar bait-bait dengan tipografi khusus, namun juga memiliki kemampuan untuk menjadi ‘pengamat’ yang tajam terhadap berbagai kecenderungan dalam kehidupan bersama pada zamannya, memiliki hubungan anak-orangtua dengan penyairnya. Hal ini juga nampak dalam puisi-puisi Puti Reno Raudha Thaib atau Upita Agustine, nama pena yang mulai digunakan saat mulai kuliah.
Lahir di Pagaruyung, Tanah Datar, yang dahulu merupakan pusat dari Kerajaan Pagaruyung, Puti Reno Raudha Thaib hidup dan dibesarkan dalam kekuatan kebudayaan Minangkabau yang kuat. Kebudayaan Minangkabau yang kuat dipadu dengan ajaran islam yang sudah sedari dini didapatkan oleh Puti Reno Raudha Thaib, menjadi dasar pembentukan kepribadian Puti Reno Raudha Thaib.
Puti Reno Raudha Thaib didapuk sebagai Bundo Kanduang, sosok tertinggi dalam struktur kebudayaan Minangkabau yang matrilinear. Hal ini memperkuat karakter Puti Reno Raudha Thaib yang keibuan, sekaligus bijaksana dan tegas. Kebijaksanaan Puti Reno Raudha Thaib sudah ada sejak kecil. Sewaktu kecil, Puti Reno Raudha Thaib pernah menjadi peminta sedekah di pasar Batusangkar. Puti Reno Raudha Thaib berasal dari keluarga berpengaruh dalam Minangkabau dan hal tersebut merupakan tindakan yang merusak citra keluarga. Alasan kuat Puti Reno Raudha Thaib ingin menjadi peminta sedekah adalah ingin merasakan sensasi menjadi pengemis. Semua keluarga marah dan Puti Reno Raudha Thaib mendapat pengajaran dari ibunya. Alih-alih marah, Puti Reno Risma Yang Dipertuan Gadih Gadang, ibu Puti Reno Raudha Thaib, tidak memarahi Puti Reno Raudha Thaib. Puti Reno Risma Yang Dipertuan Gadih Gadang justru menanyakan alasan Puti Reno Raudha Thaib ingin menjadi pengemis, motifnya, dan menanyakan berbagai pertanyaan untuk mendapatkan informasi yang akurat. Puti Reno Raudha Thaib dididik kritis sedari dini.
***
Selain mendapat pengajaran dari ibunya, Puti Reno Raudha Thaib banyak mendapat pengajaran dari neneknya, Puti Reno Aminah Yang Dipertuan Gadih Hitam. Salah satu pengajaran adalah pembacaan pantun-pantun dan dongeng dari Puti Reno Aminah Yang Dipertuan Gadih Hitam. Pembacaan pantun-pantun dari Puti Reno Aminah Yang Dipertuan Gadih Hitam yang bertujuan untuk menjawab respon alam, diakui Puti Reno Raudha Thaib sebagai hal yang berpengaruh pada awal bentuk puisinya.
Kenangan bersama Puti Reno Aminah Yang Dipertuan Gadih Hitam diabadikan dalam sebuah puisi berjudul Nenekku:
Yang berdiri di bawah bayang
Nyiur Kelapa Gading
Ketika langit senja terobek
Bibirnya menggetar
Terbang burung gagak sekawan
Melintasi Bianglala
Senandung perempuan renta
Nenekku
Sungai di mana
Jalan di mana
Rumah di mana
Tanah di mana
Kusemaikan benih kehidupan
Kupetik dari pohon
Nenekku
Kuburmu di mana
Terkubur kuburku
Nenekku
Sungai beku
Jalan Melingkar
Rumah tua lapuk
Tanah kering
Benih-benih hampa
Nenekku
Ketemui tanpa bayang
Senja yang rapuh
Di mana
Kayu Tanam, Februari 1976
Puisi tersebut, yang lahir dari proses pengabadian kenangan Puti Reno Raudha Thaib terhadap Puti Reno Aminah Yang Dipertuan Gadih Hitam, merupakan sebuah proses kreatif yang sangat total. Puti Reno Raudha Thaib memposisikan puisinya sebagai rintihan dan menghiraukan anggapan orang-orang yang mengklasifikasikan puisi-puisi Puti Reno Raudha Thaib sebagai puisi yang kontemplatif, puisi renungan. Puti Reno Raudha Thaib tetap berkarya dengan tetap menghadirkan tema-tema perenungan, tidak berubah, dan justru menjadi alasan utama mengapa puisi-puisinya terlihat sebagai sebuah rintihan yang gelisah dengan keadaan sekitar. Puti Reno Raudha Thaib bahkan menyadari hal tersebut. Puisi yang terlalu eksklusif dan personal, sebagaimana yang dirasakan oleh Sapardi Djoko Darmono.
Justru karena hal tersebut menguatkan peran Puti Reno Raudha Thaib terhadap puisinya. Puti Reno Raudha Thaib adalah seorang ibu yang setia dengan ‘anaknya’, sehingga menyebabkan puisi-puisi Puti Reno Raudha Thaib bergerak lebih jauh, menjelma menjadi sesuatu yang lebih dari sebuah rintihan saja. Puisi tersebut tumbuh besar dan seiring waktu, gagasan-gagasan ‘anak’ tersebut berubah atau semakin kuat. Tumbuh dan berkembang, lalu berkomunikasi dengan pembacanya untuk bertukar pikiran. Kecenderungan merintih dalam puisinya, seiring waktu, kadang lenyap. Kadang-kadang berubah menjadi puisi yang sarkatis.
Puisi Nenekku, dalam bait keduanya mengajak saya berpikir: Sungai di mana/Jalan di mana/Rumah di mana/Tanah di mana
Bait kedua ini membagi pertanyaannya ke dalam dua bentuk: Mempertanyakan sebuah hubungan dan mempertanyakan sebuah asal-muasal. Sungai dan jalan merupakan penghubung dari dua hal. Sungai menghubungkan daerah hulu dan hilir, sementara jalan menghubungkan dua tempat. Sungai alami, sedangkan jalan adalah hasil cipta manusia. Rumah dan tanah merupakan penanda identitas. Setiap orang punya rumah yang berbeda, dan rumah yang berbeda jelas berisi orang-orang yang berbeda. Begitupula dengan tanah yang membentuk suatu identitas. Beda tanah beda tanaman. Perbedaan antara rumah dan tanah juga sama dengan perbedaan antara sungai dan jalan. Rumah adalah hasil cipta manusia, tanah alami.
Saya diajak berpikir oleh puisi tersebut mengenai “identitas” suatu hal dan “hubungan” dari suatu hal yang dihadapkan dengan “alami” dan “ciptaan” manusia. Sungai dan tanah yang alami disandingkan dengan rumah dan jalan yang merupakan ciptaan manusia. Didapatilah bahwa puisi tersebut merupakan sebuah bentuk sarkastik yang mengerikan. Manusia menginginkan kemurnian, originalitas, akan tetapi tidak bisa lepas dari hal-hal yang manipulatif. Anehnya, manusia tetap menolerir hal-hal manipulatif tersebut dan terbiasa hidup dengannya.
Proses kreatif pencipta karya berperan besar dalam kualitas karyanya. Pengalaman, pengetahuan, perasaan, dan nalar pengarang menjadi faktor utama dalam proses kreatif yang baik. Menjadi ibu bagi karya sastra berarti harus melalui perjalanan yang panjang, sebagaimana perjalanan Puti Reno Raudha Thaib mendapat didikan yang bijaksana, kritis, dan luhur sejak dini.
Selain menjadi seorang penyair, Puti Reno Raudha Thaib juga merupakan guru besar dalam bidang pertanian. Menggeluti dunia pertanian yang sangat berlainan dengan dunia kepenyairan dalam waktu yang bersamaan, membuat Puti Reno Raudha Thaib memandang karyanya lebih dari sekedar karya: Puisi-puisinya adalah anak-anak rohani dari Puti Reno Raudha Thaib. Anak-anak tersebut lahir dari ketelatenan Puti Reno Raudha Thaib dalam berproses kreatif, menjalani kehidupan, dan memperluas wawasan.
Puisi Sajak Beranak Jadi Ibu menjadi karya dari Puti Reno Raudha Thaib yang menyuarakan kerja kreatif dari ‘ibunya’ yang menganggap karya-karyanya adalah anak-anaknya, dan menggambarkan ketelatenan Puti Reno Raudha Thaib dalam berkarya. Sajak yang lahir dari ‘rahim’ Puti Reno Raudha Thaib, sajak yang membuatnya tenggelam dalam rumah, langkah, sepi, dunia, dan kehidupan hanya untuk membesarkan seorang anak. Membesarkan seorang sajak yang pada akhirnya akan memberikan ‘sesuatu’ bagi dunia.
Sajak beranak tak beranak
Sajak dari rahimku
Sajak kanak-kanak
Sajak beranak jadi ibu
Terbenam aku dalam rumah
Terbenam aku dalam langkah
Terbenam aku dalam sepi
Terbenam aku dalam dunia
Terbenam aku dalam hidup
Sajak jadi ibu
Tali meretas darah
Rasa meretas kasih
Budi meretas adat
Turunanku
Sajak jadi ibu
Meniti waktu
Pematang nasib
Turunanku
Sajak jadi ibu
Resah meretas sunyi
Sangsi diri di ujung
Turunanku
1986
Puti Reno Raudha Thaib memberi gambaran jelas bagi saya dalam sebuah proses berkarya. Dalam sebuah karya, harus ada proses penciptaan total. Alasan penciptaan sebuah karya memang beragam, namun bagaimana posisi seorang pencipta karya dalam memandang karyanya, apakah sebagai seorang ‘anak’ atau sekedar teks kaku memengaruhi kelangsungan karya tersebut. Tidak hanya Puti Reno Raudha Thaib saja yang memandang puisi-puisinya sebagai anak-anaknya, keturunannya. Sastrawan-sastrawan lainya, agaknya, juga berpandangan demikian.
Karya sastra itu hidup dan mampu memengaruhi seseorang dan kehidupan masyarakat luas.
*Disampaikan dalam Panggung Puisi Sasindo Unand 2019


Tidak ada komentar