Mbuletnya bola yang menggiling AC Milan
Bola itu mbulat. Kalimat suci itu sering terdengar untuk menjelaskan hal-hal yang tidak logis dalam dunia sepakbola. Seperti bagaimana cara menjelaskan Leicester City yang juara liga Inggris hanya dengan nilai semua pemainnya yang cuma 120 juta pundsterling (disisi lain, dengan dana segitu, Manchester United menggunakannya untuk menyomot Paul Pogba dari juventus) ataupun menjelaskan bjimana Newcastle United di musim 2015/2016 yang sudah menghamburkan duit 108 Juta Pounds namun masih saja terdegradasi. Hal-hal itu yang membuat para penikmat sepakbola atau orang yang doyan memakai logikanya menjadi terguncyang batinnya. Satu-satunya penjelasan atas hal diatas adalah: Bola itu mbulat
Mbulatnya bola itu kadang membahagiakan beberapa orang, dan juga menyengsarakan para orang. Mari alihkan pandangan sejenak tanpa harus mengheningkan cipta kepada mereka yang sengsara. Teropong atau lihat peta Italia, temukan kota Milan, dan terlihatlah para durjana yang sedang sengsara.
AC Milan, itu namanya . Milanisti, itu fansnya. San Siro, itu stadionnya. Gratisan, itu teknik mereka dalam mencoba membuat mbola menjadi kotak. Kebijakan transfer pemain AC Milan yang lihai dalam memburu pemain gratis yang 'berkualitas' atau kalau mentok gak dapat pemain gratis, pemain murah menjadi buruan utama target transfer mereka. Memang, kualitas itu tidak dapat ditentukan oleh kuantitas. Kualitas dan kuantitas adalah dua hal yang berbeda, dan tak akan bisa bersatu. Harga dari seorang pemain tidak menentukan kualitasnya, karena justru banyak pemain hebat itu datang dengan harga yang murah.
Hal itu juga yang menginspirasi AC Milan untuk puasa merekrut pemain bintang dan memilih pemain yang antah-berantah lalu akan diternak menjadi pemain bintang, dan bilapun tak bisa menjadi bintang setidaknya menghasilkan uang guna memberi nafkah bagi peti..., maksudnya Klub. Sayang, dimulai pada musim 2012/2013, sepertinya mbulatnya bola mulai menggiling AC Milan. Musim 2012/2013 menjadi awal dari regenerasi AC Milan. Pemain legenda seperti Gattuso, Nesta, Inzaghi, Zambrotta, dan Van Bommel memutuskan untuk meninggalkan AC Milan. Sementara nama bintang seperti Ibrahimovic, Thiago Silva, Pato, dan Cassano dijual oleh AC Milan.
Proses regenerasi sepertinya berjalan baik. Musim 2012/2013 AC Milan memiliki Mario Balotelli, El-Shaarawy, Pazzini, Flamini, Robinho, Prince Boateng, Sang legenda Ambrosini serta Yepes juga masih ada untuk memandu, dan Ricardo Montolivo. Nama terakhir datang secara gratis dan hingga musim 2015/2016 menjadi kapten tim. Meskipun Finish di peringkat ke tiga pada musim itu, hal itu masih lebih baik dibanding nasib tetangga mereka yang finish diposisi ke-9 dan AC Milan musim itu juga masih bermain di Liga Champions. Namun melihat proses regenerasi berjalan baik, AC Milan semakin menggiatkan pencarian dalam berburu pemain gratisan. Kaka, Michael Essien, dan Keisuke Honda datang dengan gratis pada Musim 2013/2014. Pembelian pemain berjalan lesu dengan hanya membeli Alessandro Matri, Christian Zapata, Andrea Poli, Ricardo Saponara, dan Jherson Vergara. Lalu apa yang terjadi? Bukan menjadi tim terbaik segalaksi bima sakti, jutstru musim itu AC Milan finish diperingkat ke-7. Terlempar dari liga champions secara mengenaskan oleh Atletico Madrid. Musim 2013/2014 membuat Massimiliano Allegri dan Clarence Seedorf tercampak dari kursi kepelatihan AC Milan. Mbuletnya bola mulai menghantam AC Milan.
Musim 2014/2015 dan 2015/2016 menjadi musim yang absurd bagi AC Milan. Finish diperingkat 10(14/15) dan 7(15/16) bukanlah kebanggaan bagi tim yang mengoleksi 7 trofi kuping besar Liga Champions. Dari metode mencari bibit pemain yang gratisan atau berharga murah sampai menghamburkan uang untuk membeli pemain bintang seperti Carlos Bacca, Alessio Romagnoli, dan Luiz Adriano. Hal itu nyatanya masih belum membuat AC Milan bangkit. 4 Pelatih sudah menangani AC Milan sejak dipecatnya Allegri yang memberi Scudetto terakhir bagi AC Milan. Nyatanya masih belum mendongkrak peforma AC Milan. Tim pemandu bakat AC milan yang memiliki kualitas jempolan tak dapat mengendus bakat-bakat hebat. Akademi AC Milanpun masih lesu dan belum mencetak 'The Next' Maldini, Nesta, Gattuso, Inzaghi dan Galliani.
Satu-satunya alasan mengapa AC Milan Menjadi seperti ini adalah: Mbuletnya bola yang menggiling AC Milan.
Tidak perlu menganalisis ataupun mencari penyebab dari keterpurukan AC Milan, sebab bola itu mbulat. Sesuatu yang mbulat akan lebih susah diprediksi. Semoga para Milanisti diseluruh dunia dapat sabar serta tabah menghadapi gilingan bola yang menyiksa Klub Tercinta mereka. Mari kita katakan 'Amin' dan jangan ketik angka 1 agar AC Milan dapat segera bangkit, Amin


Tidak ada komentar