Header Ads

Underbelly Area Pada Ponsel yang Kini Menjadi Tren




Sumber Gambar: Tabloid88.com

Sebelum era 2010-an menyambut, sebagian besar dari pengguna ponsel tidak begitu memikirkan fungsi kamera depan.

Kamera Depan itu tidak penting

"Toh, untuk apa? Kamera belakang jauh lebih bagus, lebih besar resolusinya, dan saya juga jarang video call!" begitu sebagian besar gumaman hati masyarakat tentang kamera depan. Kehadiran kamera depan pada ponsel dahulu yang fungsi utamanya di gunakan untuk video call, justru tampak diabaikan, diasingkan, bahkan terkadang rusak dan menjadi biang kerusakan dari sebuah ponsel.
Menyebalkan, itulah kata yang mewakili perasaan pengguna ponsel dahulu.

Selain karena dulu belum ada aplikasi chat yang support dan platform ponsel yang support, sebenarnya kalau dipikir secara khidmat dan bijak, tidak penting juga untuk video call.
Mendengar suara saja sudah syukur, bahkan melihat rangkaian katanya saja sudah syukur.
Kebiasaan mudah bersyukur yang dimiliki masyarakat Indonesia sangat punya dampak signifikan untuk perlambatan teknologi Indonesia. Pada akhirnya, orientasi 'bersyukur' pun berubah se-chip demi se-chip seiring tumbuh dewasanya peradaban.

Video Call dahulu memiliki tarif yang mahal

Selain itu, Video Call dahulu hanya bisa dilakukan via provider SIM CARD dengan harga mencekik dan aplikasi-aplikasi webcam yang enggan melakukan promosi sehingga asing di tengah telinga manusia. Dan juga, dahulu, ditengah langkanya layanan Video Call, Operator memanfaatkan budaya 'mudah bersyukur' masyarakat Indonesia dengan tarif yang 'bersyukur' pula.
"Syukur bisa lihat wajah emak 1 nanodetik" begitu kata parjo di Swiss yang pulsanya sudah terkuras €20 (20 Euro = Rp. 280.000,00).

Oleh itu, dengan kesepakatan tak langsung dan dilakukan atas nama kemudahan untuk ekonomi maka masyarakat saat itu kompak serta satu hati satu tujuan dan satu cita untuk memboikot kamera depan. Mengasingkannya, membuat jarang, dan membuat vanishing point diantaranya.
Hingga akhirnya, kamera depan dianggap tabu, tak berguna, dan menjadi Underbelly Area yang tak terjamah.

Adanya Area asing dan misterius kadang menjadi awal mula sebuah pemikiran hebat dan ledakan produksi yang luar biasa. Tumbuh dewasanya peradaban disertai tumbuh dewasanya syaraf kekonyolan manusia membuat kamera depan tidak hanya sekedar menyandang predikat Underbelly Area, melainkan benar-benar menjadi sesuatu yang Underbelly, sesuatu titik lemah yang vital, tak terjamah, dan tak ramah.

Hasrat alamiah setiap manusia untuk mengekspresikan superioritas dirinya bisa diwujudkan oleh kamera depan. Tapi, apa guna kamera depan kalau kualitas kamera belakang sudah jauh superior?
Efisiensi. Tangan manusia menjadi lelah ketika harus memutar-mutar untuk menyesuaikan posisi wajah saat berfoto lewat kamera belakang. Kamera depan punya sebuah efisiensi. Letaknya yang di depan dan membuat gampang pengguna untuk melihat paras wajahnya membuat kamera depan menjadi primadona para pecandu foto selfie. Terpelatuk, Underbelly Area ini terpelatuk dan membuat ledakan sejarah dalam kekonyolan manusia.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.