Leonardo Da Vinci dan William Shakespare (yang terasing)
Siapa manusia intelektual di bumi ini yang tidak mengenal Leornardo da Vinci? Sepertinya, pertanyaan ini terlalu diskrimintatif untuk mereka yang kurang atau tidak menjadikan intelektualitas sebagai patokan hidup mereka. Daripada jadi njelimet, lebih baik mengganti sasaran pertanyaan tadi.
Makhluk mana yang tidak mengenal Leonardo da Vinci? Leonardo lahir di area konseptual dalam tatanan kehidupan masyarakat yang bernama seni, tepatnya seni lukis dan sekaligus menjadi seorang yang berperan besar dalam kemajuan seni lukis, menciptakan mahakarya, seorang pionir yang mengajak manusia untuk masuk menyelam ke alam alam imajinasi. Mungkin pikiran sebagian orang terlalu njelimet untuk memikirkan siapa itu Leonardo da Vinci. Tapi, begitu disodorkan lukisan ini, mata dan hati serta syaraf akan terbelalak.
Merasa familiar, sok kenal sok dekat, cinta, atau bahkan ingin memfollow akun media sosial dari lukisan ini? Antara paham dan tidak paham, tahu dan tidak tahu, tapi faktanya lukisan ini adalah bagian mahakarya agung Leonardo da Vinci. Bagian dari gugusan Mahakarya yang merombak total pandangan Manusia pada seni lukis.
Seni Lukis Adalah Keindahan
Seni Lukis sangat erat hubungannya dengan keindahan. Layaknya pasutri yang bersatu, tanpa ada biji wijen diatasnya, bila muncul kata 'seni lukis' maka akan ada kata 'keindahan' bersamanya. Serupa tetapi tak sama, satu tapi beda sisi, itulah fakta yang malu-malu menunjukan batang pipinya. Seni lukis itu jauh lebih tinggi kelas domainnya dibanding keindahan. Bila keindahan masih memakai domain gratisan seperti blog ini, maka seni adalah sebuah domain top level (TLD) yang harganya sangat mahal, terindex terus di search engine, dan terngiang-ngiang di benak setiap umat. Keindahan hanyalah perwujudan yang dapat dilihat oleh mata manusia, pengamatan inderawi yang standarnya sama bagi setiap orang. Sama, monoton, miskin, tidak bisa masak air, tidak memiliki sendal jepit, itulah kebobrokan yang dimiliki oleh pengamatan inderawi.
Leonardo memanglah seorang seniman adiluhung, karya-karyanya adalah sebuah keajaiban yang konon mampu membuat pasukan nasi bungkus mau memakan nasi kotak. Akan tetapi, kebanyakan karyanya berwujud objek visual yang memanjakan mata. Lukisan-lukisan, patung-patung, dan tumpukan desain arsitekturnya menyihir mata manusia. Mata sebagai tonggak utama manusia dalam memahami dunia, digiring ke dalam pandangan yang sama, monoton, miskin, tidak bisa masak air, dan tidak memiliki sendal jepit.
Karya dari Shakespare yang selalu terasing
Akan tetapi, harus kita semua akui bahwa Leonardo adalah seorang seniman hebat. Saking hebatnya, bila tercetus nama "William Shakespare" maka kebanyakan umat akan bingung. Siapa dia? Apa karyanya? Bahkan manuskrip tulisan dari dramanya pun tak akan diakui sebagai karya yang adiluhung. Naskah dramanya, tulisanmya, dan frasa-frasa dalam naskah dramanya.
Memangnya apa hebatnya sebuah huruf? Hanya bisa berkembang biak. Dari huruf ke suku kata, suku kata ke kata, kata ke frasa atau klausa, frasa atau klausa ke kalimat, kalimat ke paragraf, paragraf ke karangan bebas yang entah kapan habisnya, karangan bebas yang entah habisnya ke buku yang entah kapan bisa berhenti meneror para manusia. Apa hebatnya berkembang biak? Toh itu naluri alami makhluk hidup. Untuk apa hal konseptual macam tulisan menjiplak naluri alami makhluk hidup?
Pantas tulisan selalu terasing. Satu gambar lebih dari seribu kata.
Dibanding melihat hal yang memang setiap manusia dambakan pada malam pertama (baca: berkembang biak) mak lebih baik memandang lukisan-lukisan Leornardo dan pasukan bodrex yang mengikutinya, dibanding melihat huruf yang berkembang biak.
Biarkan huruf terasing, begitu terasingnya hingga sama dengan terasingnya Willie yang hanya disebut dua kali, disini.



Tidak ada komentar