Header Ads

Lapar Sebagai Sebuah Alarm Tubuh Berteknologi Tinggi




Manusia setiap saatnya secara konsisten dan terus menerus perlu asupan gizi serta nutrisi yang cukup agar perkembangan dirinya berjalan dengan baik. Perkembangan pada diri manusia merupakan hal penting yang harus sesegera mungkin dipenuhi tanpa syarat dan ketentuan berlaku serta batasan kuota internet. Kuota internet yang mahal sekarang ini tentu sangat membatasi tumbuh-kembang manusia, apalagi kecepatan internet di Indonesia ini terlalu lambat, mengindikasikan ada masalah pada sistem distribusi sinyal per access pointnya.

Kecepatan internet yang lambat, sistem distribusi sinyal yang bermasalah dan juga adanya ketidaksetaraan ekonomi dalam penentuan harga kuota yang hanya diuntukkan kepada kaum borjuis, jelas bahwa kuota internet membatasi tumbuh kembang manusia, meskipun tidak ada kaitannya. Apabila tubuh tidak mendapat asupan nutrisi, maka secara reflektikal maka ada alarm yang berbunyi. Alarm ini jelas berguna untuk menjaga keseimbangan sirkulasi gizi dalam tubuh. Salah satu nutrisi didapat dari proses makan-memakan. Proses makan-memakan merupakan suatu proses yang sangat penting, sebab menurut penelitian dari intuisi penulis yang tidak tajam ini, sekitar 90% nutrisi masuk melalui apa yang kita makan. 10% sisanya masuk dari asupan tontonan kita(1%) , asupan bacaan kita (7%), dan sisanya berasal dari daya imajinasi kita (2%). Seperti yang penulis peragakan, bahwa hasil penelitian ini berasal dari intuisi yang tidak bisa dipertanggung-jawabkan. Hal ini mengindikasikan buruknya nutrisi yang didapat penulis.

Terlepas dari buruknya gizi yang didapat penulis, tubuh sangatlah memerlukan nutrisi. Apapun akan dilakukan demi tercukupnya asupan nutrisi. Terinspirasi dari tubuh yang ngotot banget untuk mendapat nutrisi, mungkin pola fundamental inilah yang menjadi tuntunan para wanita materialistis dalam 'menguras' isi dompet pacarnya/kekasih/suami/peliharaan.

Salah satu penerapan dalam ngototnya tubuh dalam mendapat nutrisi adalah rasa lapar. Rasa lapar secara sederhana terjadi karena lambung manusia yang tidak terisi makanan sudah tidak dapat 'menoleransi' kekosongannya. Sebenarnya ada pelbagai macam pembahasan tentang asal-muasal rasa lapar, tapi justru yang akan dibahas adalah bagaimana teknologi canggih dalam pembuatan sistem rasa lapar ini

Rasa lapar ada karena lambung manusia yang tidak terisi makanan sudah tidak dapat 'menoleransi' kekosongannya, sudah disebutkan diawal. Teknologi tinggi diterapkan dalam mengukur kadar toleransi terhadap kekosongan perut ini. Bayangkan, perut yang kosong selama 2 minggu, dan perut yang kosong selama 1 jam, bagaimana rasanya?

Tentu berbeda, dan inilah dimana otak dan hati(perasaan) manusia bekerja dalam proses toleransi ini. 1 jam perut kosong, hal ini masih bisa ditoleransi. Otak bekerja dalam pemrosesan makanan di lambung. Jelas otak masih 'sibuk' mengatur proses di dalam lambung dan organ pencernaan yang terlibat. Rasanya mustahil otak untuk kembali menimbulkan respon berbentuk rasa lapar kepada kita. Begitu pula hati, hati(perasaan) manusia bekerja juga. Hati(perasaan) manusia pastilah iba melihat lambung yang masih penuh dengan makanan, bekerja menafkahi organ-organ lainnya mengingat saat ini sulit mencari pekerjaan (meskipun lapangan pekerjan bagi organ manusia sangat terbuka lebar, bahkan hampir menjadi kerja rodi). Hati(perasaan) tidak mungkin untuk memprovokasi kita untuk makan lagi dan kembali menghujani lambung dengan makanan. Hal ini sangat mencederai UU ketenagakerjaan meskipun penulis tidak yakin ada yang mengatur regulasi kerja di dalam organ tubuh.

Lalu bagaimana dengan perut yang kosong selama 2 minggu? Teknologi tinggi ini kembali bertindak professional. Otak sadar bahwa lambung butuh asupan makanan agar permukaannya tidak mengasam dan mencederai tubuh kita, begitupula hati(perasaan) yang sadar bahwa diri kita ini linglung, sedih, emosi, berusaha sekuat tenaga dalam mencari sesuap nasi.

Canggihnya teknologi dalam tubuh kita ini haruslah kita sadari, bahkan gadget tercanggihpun tidak dapat mengukur tingkat 'toleransi' terhadap suatu hal. Seyogyanya kita bersyukur dan sadar untuk meningkatkan asupan nutrisi kita, agar menjadi generasi yang kuat dan menikmati kuota internet murah!

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.