Header Ads

Duduk diam yang lebih dari sekedar produktif.

Sumber Gambar: Liputan6.com


Sering kali para dudukers atau orang yang duduk santai tanpa melakukan aktivitas apapun mendapat perlakukan diskriminatif. Mereka dicap sebagai pemalas, pecundang, pengecut, dan berbagai kata hinaan lainnya yang tak ada di toko online. Para dudukers ini melanggar asas-asas produktivitas yang dianggap menjadi kunci sukses dalam kehidupan dunia dan akhirat. Tapi apakah tuduhan sepihak itu benar? Faktanya, tidak ada manusia manapun yang ingin gagal. Oleh itu manusia dibekali 2 aspek penting, yaitu akal dan perasaan.


Kedua hal itu penting sebab akal mengontrol sisi rasionalitas, sementara perasaan mewakili sisi irrasionalitas. Pertautan kedua hal ini menjadi tonggak manusia dalam berkehidupan. Tapi, membuat akal dan perasaan ini bertaut ini susah, juga bukan berarti tidak mungkin. Akal dan perasaan dapat sama-sama termasikmalkan dalam keadaan tenang. Keadaan tenang membuat 2 hal tadinya berbeda menjadi satu kesatuan.


Oleh itu manusia secara alamiah akan mencari cara agar mendapatkan ketenangan. Ketenangan dapat memudahkan mereka satu harmoni dengan irama kehidupan yang menciptakan sistem tatanan hidup manusia. Tatanan itu punya puncak, puncak itu memilih sesosok manusia yang produktif. Dengan produktif, sosok itu mampu mendaki puncak tatanan itu. Sebenarnya, setiap orang ingin berada di puncak. Hal itu (mungkin) sudah menjadi suatu ambisi suci yang tertanam dalam diri manusia sejak awal keberadaannya. Sedikit langka kita menemukan manusia yang mau menjadi keset bagi manusia lainnya.

Bisa dipastikan manusia tipe itu adalah manusia super yang (mungkin) punya selera (memimpin) anti-mainstream. Berada di puncak berarti tidak ada lagi kekuatan yang diatas sosok itu, sosok itu adalah sumber dari segala kekuatan sekaligus pemangku kekuasaan absolut dari ribuan kain keset, maksudnya manusia-manusia yang ada dibawah. Sosok itu menunjukan dahsyatnya produktivitas. Adanya sosok itu dipuncak tentu karena produktif. Ia menghasilkan suatu perpindahan, dari dimensi bawah tatanan kehidupan menuju puncak tatanan kehidupan.

Mereka yang duduk diam, apakah mereka kain keset itu? Tidak. Mari sedikit kita ekspansi khazanah pemikiran kita. Setelah sosok itu ada dipuncak, apa yang ia lakukan? Duduk! Mengapa sosok itu tidak mencoba naik lagi? Sederhana saja, mereka yang mencoba naik berarti masih ada dibawah. Sedangkan yang namanya puncak adalah akhir dari sesuatu yang tinggi.

Lalu, apa yang bisa dilakukan dan menjadi nilai sehingga membuat keberadaan suatu puncak begitu bergairah? Sederhananya, apabila kita di puncak maka kita bisa duduk. Duduk menyaksikan para keset yang sedang bekerja keras. Menikmati penderitaan? Tidak, justru dengan berada di puncak menjadi tempat evolusi yang pas untuk menjadi makhluk canggih melebihi manusia. Tentu mereka yang ada dipuncak berevolusi, naik satu tingkat menjadi makhluk evolusioner yang menjadi kuas penulis kehidupan. Tidak perlu bekerja keras agar dapat satu harmoni dengan kehidupan, karena mereka justru adalah 'kehidupan itu sendiri'.

Para dudukers yang budiman itu, mereka duduk di singgasana mereka, menjadi "sosok pemuncak" itu. Lalu untuk apa mereka harus produktif, bekerja, ataupun berkarya?
Tuduhan yang dialamatkan kepada mereka itu, hanyalah bentuk sakit hati atas ketidaksanggupan para pembenci dudukers untuk berada di puncak tatanan kehidupan.

Kehidupan imajinatif mereka, para dudukers

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.