Waifi dan Waifai Ungkap Labilnya Orang Indonesia
Sumber Gambar: Wikimedia
Labil itu wajar terjadi saat masih berusia muda, usia hijau. Saat itu masih belum bertemu dengan pegangan hidup. Entah pegangan hidup itu berwujud jodoh, karir, jabatan, materi, sendal, ilmu api, dan lain-lain. Labil juga menandakan kalau manusia itu, memang murni manusia bukan campuran kucing atau sebangsanya. Sebab, manusia itu dinamis, berubah-ubah dan menyesuaikan diri dengan keadaan. Pola pikir dan rasa akan berubah, membentuk sebuah proses adaptasi. Namun, kalaulah tiap detik tiap saat beradaptasi maka coba pikir apa bedanya manusia dengan, monyet yang sedang menunjukan atraksi topeng monyet? Disuruh ini oke, disuruh itu oke, bahkan sampai disuruh naik motor! Monyet yang meniru manusia atau manusia yang meniru monyet?
Kalau anda penganut teori Darwin, tidak usah pusing. Bahasa sebagai mahakarya manusia dimuka bumi ini juga menjadi korban kebringasan, kehitleran, kekejaman manusia. Apakah semua manusia itu labil? Tidak semua, tapi mari kita sempitkan pandangan. Jangan bahas semua manusia, cukup lihat kumpulan manusia yang ada di negeri cincin api bernama Indonesia.
Zaman sekarang adalah zaman teknologi, dimana perkembangan teknologi yang ada sangat dipengaruhi oleh negara barat, khususnya Amerika Serikat yang berbahasa Inggris (Amerika). Secara langsung, istilah-istilah yang berkaitan tentang teknologi memiliki aroma bahasa Inggris. Lidah orang Indonesia mau tak mau harus melekuk seperti orang Amerika. Huruf W di Indonesia diucapkan 'we', sementara orang Amerika mengucapnya dengan "dabelyu(dΛəlju)".Berarti, di Amerika, kata "Wireless" dilafal "Dabelireless"!
Nyatanya tidak, mereka malah mengucapnya dengan "Waireless". Apakah orang Amerika itu labil dengan melanggar tata bahasa mereka? Tidak. Disana, huruf W jika sendiri dibaca "dabelyu(dΛəlju)". Tapi, kalau sudah ada pasangannya , lain ceritanya. Memang seperti itulah tata bahasanya.
Begitu dinamisnya tata bahasa inggris dalam mengatur pengucapan kata, sedikit tidaknya menyentuh hati orang Indonesia untuk menirunya. Dari sekian banyak istilah teknologi yang berbahasa inggris, ada satu istilah yang membuat kelabilan orang Indonesia muncul. Wifi, kepanjangan dari wireless fidelity. Kata wifi ini, bagaimana diucapkan oleh para orang Indonesia? Jika mengacu pada tata bahasa Indonesia yang benar (dan menurut undang-undang) Wifi dibaca "Wi-fi". Para orang tua yang buta teknologi akan membaca seperti itu.
Fakta mirisnya, para remaja maupun kawula muda, sebagai ujung tombak bangsa malah membioskopkan kelabilan membacanya dengan: Wai-fi atau Wai-fai!
Memang tidak salah mereka mencoba berbahasa Inggris, itu bagus. Patut diapresiasi, diberi kado dan ditenggelamkan. Bukannya mengajarkan fanatik bernegara, tapi sebagai bangsa yang (harusnya) besar, maka Orang Indonesia harus secara khidmat dan merdeka mengucapkan kata wifi dengan ucapan "Wi-fi"!
Kenapa harus malu bila mengucap wifi dengan bunyi "wi-fi" yang Indonesia banget? Boleh kita belajar dan tahu bagaimana orang Inggris (Amerika) mengucap kata wifi, tapi jangan sampai menggantikan bahkan menyalahkan pengucapan wifi yang betul dalam bahasa Indonesia.
Mengapa bahasa Inggris jadi begitu diagungkan? Karena bahasa Internasional?
Padahal, sudah menjadi rahasia umum jika bahasa Inggris meluas ke penjuru dunia karena penjajahan! Jadi, Indonesia, sebagai negara merdeka harus menunjukan kemerdekaannya dalam hal apapun, bahkan dalam berbahasa. Jangan biarkan pengaruh asing merobek tata bahasa dan kosakata bumi Nusantara Indonesia. Dan kalau tetap ngeyel ingin mengucap wifi dengan versi Inggris, ucap yang benar. "Wai-fai" bukan "Wai-fi".
Jika tidak, yang ada malah kelihatan mahalabilnya! Duh! Akan tetapi, memang sebaiknya semua masyarakat harus punya kesadaran akan rasa nasional. Tidak usah perang, angkat senjata, mulai dari hal yang nampaknya sepele. Berbahasa!
Rakyat Indonesia pasti cinta Indonesia, semoga. Bukan hanya nampak di media sosial saja.

Tidak ada komentar