Header Ads

Gaptek Lebih Baik dari Certek!




Sumber Gambar: rayanet.web.id



Zaman sekarang adalah zaman berkembangnya teknologi dengan begitu gila, tak waras, dan sangat cepat! Menggelegarnya pengaruh Teknologi mengobrak-abrik dunia menjadi kecil seperti kamar mandi dengan kloset duduk, yang di dalam kloset itu ada milyaran sel-sel manusia berwarna emas, sempit dan penuh sesak. Karena itu, pengaruh teknologi mampu menampar plak-plak dongeng mistis para ilmuwan yang katanya "alam Semesta tiap detiknya semakin berkembang".

Uomonk Kosong! Kenyataan lebih berbobot dibanding bangku yang dimakan saat sekolah dan kuliah! Manusia harus menjadi super dan ultraper, supaya tidak terasa sesak, kegencet, apalagi hilang karena gencetisme dan sesaklogi yang ada karena dunia yang mengecil ini. Mau tak mau, ya manusia harus bercampur mesra dengan teknologi agar menjadi manusia super.

Manusia yang seperti itu katanya manusia melek teknologi, hebat, luar biasa, dan penguasa dunia
Sementara, manusia yang ogah bercampur dengan teknologi atau telat mengenal teknologi, siap-siap saja secara percuma ('percuma' dalam bahasa malaysia berarti gratis) menjadi gaptek, gagap teknologi. Terbata-bata, gagu, gagap, bicara lamban dan akhirnya sengsara di dunia ini.

Tapi sebenarnya tidaklah tepat mengatakan manusia gaptek adalah manusia paling sengsara di dunia ini. Tepatnya manusia sengsara saja, tanpa menodong pisau untuk memaksa kata 'lebih' ditambahkan. Pahit untuk diterima, bahwa siapapun manusia yang tidak disentuh oleh teknologi akan sengsara, dan tidak ada bedanya dengan homo sapiens yang primitif.

Tenang, apabila anda sedikit atau banyak menderita gaptek, sebenarnya anda punya masa depan bagus. Dengan ketidaktahuan akan teknologi, maka secara sadar atau tak sadar muncul rasa ingin tahu yang ujung-ujungnya teknologi akan disentuh sendiri oleh gaptekers, hanya jika para manusia gaptek itu benar-benar manusia tulen.

Justru, sangat berbahaya menjadi spesies fresh yang baru terbentuk di zaman teknologi ini, menjadi manusia certek (cerewet teknologi). Manusia certek ini bisa dikatakan sebagai produk gagal dalam era teknologi. Kalaulah manusia gaptek itu adalah manusia serba kurang, masih bisa dan punya niat untuk menjadi manusia super, tapi manusia certek justru sebaliknya.

Mereka ini kegentongan, gembrot, dan gendhut, tinggal menunggu meledak layaknya bom! Namanya kegendutan pastilah tak bisa asal bahkan tak boleh menambah nutrisi, dan jika dikuruskan tantangan dan resiko menanti. Manusia certek benar-benar menjalankan tugas sebagai duta cerewet. Isi kepala, otak, darah, hati, yang ada hanyalah teknologi. Orang primitif hanya berpikir tentang makan, maka orang certek cuma berpikir tentang teknologi. Mirisnya, teknologi dalam pemahaman mereka hanyalah seputar internet, elektronika, mesin, telekomunikasi, dan hal fisik lainnya.
Padahal, teknologi itu adalah suatu ilmu yang mempelajari bagaimana cara mempermudah hidup manusia. Manusia certek tidak akan menganggap tukang es jeruk yang mampu menghasilkan jeruk dari buah kelapa sebagai tokoh revolusioner. Yang ada mereka malah menuduh tukang es jeruk itu sebagai dukun mistik! Duh, betapa miskinnya kamus nalar dipikiran mereka. Jangan juga lupakan, certek berarti cerewet teknologi. Cerewet, bicara tanpa henti tanpa mau dengar dan memperhatikan keadaan, merasa ucapannya sudah baik dan jelas sehingga tak mau bercermin, padahal, ah.

Harusnya, daripada punya ketakutan menjadi gaptek, lebih baik punya ketakutan menjadi gaplar (gagap bernalar) dan gaplak (gagap berakhlak) serta, certek.
Jadi gaptek itu ujian, bukan penyakit. Dengan gaptek maka akan terbuka anak tangga menuju kehidupan cerah. Itu lebih baik daripada menjadi certek yang merupakan cacat mental.
Dan lagi, menjadi gagap itu fenomenal, lho. Lihatlah salah satu publik figur, Aziz Gagap. Andai Aziz gagap menjadi Aziz cerewet, sudikah anda melihat aksinya?

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.