Chairil Anwar dan Saya
Sumber gambar: Medium.com
Izinkan saya mengutip perkataan Nirwan Dewanto saat membuka buku Aku Ini Binatang Jalang (2011), “Terlalu lama khayalak pembaca tenggelam dalam sejenis mitos bahwa Chairil Anwar adalah si binatang jalang yang terbuang dari kumpulannya, bahwa dengan kejalangan ia membangun sastra yang baru. Mitos demikian hanya akan menempatkan Chairil ke dalam kelisanan yang membuat kita malas menyelami karyanya.”
Terlepas dari kecenderungan Nirwan Dewanto yang acapkali memaki kelisanan dalam konstruksi kehidupan masyrakat Indonesia, memang ada penghalang antara Chairil dengan masyarakat kini. Chairil digambarkan sebagai manusia liar yang meradang menerjang segala penghalang. Chairil yang liar, pemberontak, dan asal-asalan atau kesatria cinta yang memiliki ribuan wanita pujaan. Lalu, seperti kisah-kisah klise: cintanya selalu ditolak, dan terlahirlah puisi-puisi luar biasa karena pengalaman menyakitkan tersebut. Seakan tidak ada kerja intelektual yang dilakukan Chairil selain merenungi kisah cintanya yang tragis.
Dalam suratnya kepada HB Jassin pada 10 April 1944, Charil menulis:
Jassin,
Yang kuserahkan padamu — yang kunamakan sajak-sajak!
— itu hanya percobaan kiasan-kiasan baru.
Bukan hasil sebenarnya! Masih beberapa “tingkat percobaan”
musti dilalui dulu, baru terhasilkan sajak-sajak sebenarnya.
Yang kuserahkan padamu — yang kunamakan sajak-sajak!
— itu hanya percobaan kiasan-kiasan baru.
Bukan hasil sebenarnya! Masih beberapa “tingkat percobaan”
musti dilalui dulu, baru terhasilkan sajak-sajak sebenarnya.
Dari surat tersebut, lewat ungkapan “percobaan kiasan-kiasan baru”, “bukan hasil sebenarnya”, “tingkat percobaan”, atau “sajak-sajak sebenarnya”, Chairil memperlihatkan betapa puisi-puisinya diperlakukan sebagai sebuah produk ilmiah yang harus melalui tahapan-tahapan sistematis. Puisi magnum opus berjudul Aku tidak lahir dari menung sekali duduk di tepi jalan, melainkan lewat sebuah usaha pemikiran yang rumit. Chairil benar-benar mencurahkan segenap kemampuan intelektualnya saat menuliskan puisi. Lebih dari itu, puisi-puisi Chairil membuat “bahasa Indonesia” yang masih muda pada saat itu benar-benar bertenaga. Segala unsur kebahasaan dipergunakan dengan baik oleh Chairil untuk menghasilkan karya yang bertahan selama seribu tahun kedepan.
Kami sama pejalan larut
Menembus Kabut
Hujan mengucur badan
Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan
Menembus Kabut
Hujan mengucur badan
Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan
Darahku mengental pekat. Aku tumpat pedat
Siapa berkata-kata ...?
Kawanku hanya rangka saja
Karma dera mengelucak tenaga
Kawanku hanya rangka saja
Karma dera mengelucak tenaga
Dia bertanya jam berapa ?
Sudah larut sekali
Hilang tenggelam segala makna
Dan gerak tak punya arti
Hilang tenggelam segala makna
Dan gerak tak punya arti
Puisi Kawanku dan Aku diatas tersebut, ada dua usaha eksperimentasi yang saya lihat—dan yang telah banyak disinggung. Kata “mengelucak” dan “pedat” adalah dua kata yang sangat asing pada masa itu, dan juga masa kini. Kata “pedat” sudah masuk dalam KBBI, namun tidak dengan kata “mengelucak”. Kedua kata tersebut merupakan upaya Chairil untuk menyegarkan bahasa Indonesia dengan hadirnya kata-kata baru yang mampu menjaga keutuhan struktur puisi.
Selain itu, lewat puisi Tuti Artic, ada upaya lagi yang Chairil lakukan.
Antara bahagia sekarang dan nanti jurang ternganga,
Adikku yang lagi keenakan menjilat es artic;
Sore ini kau cintaku, kuhiasi dengan susu + coca cola.
Isteriku dalam latihan: kita hentikan jam berdetik.
Adikku yang lagi keenakan menjilat es artic;
Sore ini kau cintaku, kuhiasi dengan susu + coca cola.
Isteriku dalam latihan: kita hentikan jam berdetik.
Kau pintar benar bercium, ada goresan tinggal terasa
— ketika kita bersepeda kuantar kau pulang —
Panas darahmu, sungguh lekas kau jadi dara,
Mimpi tua bangka ke langit lagi menjulang.
— ketika kita bersepeda kuantar kau pulang —
Panas darahmu, sungguh lekas kau jadi dara,
Mimpi tua bangka ke langit lagi menjulang.
Pilihanmu saban hari menjemput, saban kali bertukar;
Besok kita berselisih jalan, tidak kenal tahu:
Sorga hanya permainan sebentar.
Besok kita berselisih jalan, tidak kenal tahu:
Sorga hanya permainan sebentar.
Aku juga seperti kau, semua lekas berlalu
Aku dan Tuti + Greet + Amoi… hati terlantar,
Cinta adalah bahaya yang lekas jadi pudar.
Aku dan Tuti + Greet + Amoi… hati terlantar,
Cinta adalah bahaya yang lekas jadi pudar.
Dalam puisi tersebut, alih-alih menggunakan bahasa mendayu-dayu, reflektif, atau penuh gelora asmara untuk mengekspresikan cinta, Chairil menggunakan bahasa yang sederhana, dekat dengan kehidupan sehari-hari. Chairil menggunakan Toko Artic, sebuah toko yang menjual es krim di Jalan Kramat Raya pada tahun 1940-an sebagai perangkat utama dalam mengolah puisi-puisi tersebut. Ketika anggapan awam bahwa puisi adalah seni merangkai dengan kata-kata “berat” atau “sangat aneh-aneh” sehingga membuat penulis harus bermanja-manja dengan tesaurus, Chairil seakan meludahi semua anggapan tersebut. Dalam sebuah tulisan untuk Chairil, Joko Pinurbo mengatakan bahwa puisi Tuti Artic terlihat seperti puisi yang ditulis pada abad ke-21, ditulis oleh pemudia millenial yang mencintai seorang wanita. Puisi Tuti Artic membuat puisi-puisi yang beraroma Sapardi atau Jokpin terasa ketinggalan zaman. Semua hal tersebut disebabkan oleh kepiawaian Chairil mengolah bahasa Indonesia.
Chairil memang seorang intelektual muda yang luar biasa, dan seakan mengamini apa yang dikatakan Tan Malaka, “belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat, melainkan jadilah murid dari Timur yang cerdas,” dan memang, Chairil merupakan seorang murid dari Timur yang cerdas, sangat telaten menimba ilmu dari Barat. Banyak puisi-puisi luar negeri yang Chairil terjemahkan, bahkan jauh dari menerjemahkan: Chairil benar-benar “merebut” puisi-puisi luar negeri tersebut ke dalam khazanah kesusasteraan Indonesia, dan menjadikannya tenaga untuk menyegarkan bahasa Indonesia. Tapi Chairil tidak lupa pada posisinya sebagai “orang timur”. Puisi-puisi Chairil bukanlah puisi-puisi bebas yang serampangan dan tak tunduk pada aturan rima tradisional a la pantun. Sebaliknya, sebagian puisi Chairil sangat patuh terhadap ketentuan tersebut. Puisi-puisi Chairil sangat teratur dan menaati pola. Apalagi puisi-puisi yang ditulis menjelang tahun-tahun akhir kehidupannya, puisi-puisi tersebut sangat teratur. Andaikan Chairil berumur panjang, mungkin bentuk puisi-puisi Chairil akan semakin “mengerikan” dan “menjangkau” waktu seribu millenium kedepan. Saya tidak berlebihan, sebab “produk-produk ilmiah” Chairil yang ditulisnya lewat sebuah puisi, telah meninggalkan warisan besar untuk perkembangan bahasa Indonesia.
Akan tetapi, sebagaimana yang dikatakan Nirwan Dewanto, Chairil adalah sebuah mitos mengerikan. Bagi orang awam, bagi akademisi “kesusasteraan” Indonesia, bahkan bagi orang-orang yang “bergelut” dalam kepenulisan, sebagaimana yang dikeluhkan Saut Situmorang dalam esainya mengenai krisis kritikus sastra Indonesia. Pembahasa mengenai Chairil adalah pembahasan berulang-ulang, dan bagi saya, yang mencoba mencari “sisi lain” dari Chairil, mengamini hal tersebut. Betapa Chairil telah menjadi sebuah “dewa” yang harus “diamini” segala hal yang telah terjadi padanya, tanpa harus dilakukan sebuah kajian kritis.
Saya juga demikian. Saya memandang Chairil sebagai “dewa” bahkan ada beberapa puisi yang saya buat dan sangat-sangat terpengaruhi oleh pribadi Chairil yang meledak-ledak. Namun, usaha saya dalam melihat “sisi lain” Chairil dengan mencoba membaca biografinya dan beberapa uraian-uraian “repetitif” mengenai dirinya tersebut, mengantarkan saya pada seorang sosok yang sebenarnya tak diduga-duga. Chairil bagi saya adalah sebuah indikator bagaimana “kesatria cinta” yang mendedikasikan hidup untuk “cinta” dan menemui ajal yang ironi: sakit-sakitan, mati sendirian. Hidup bohemian telah menjadi ciri khas Chairil dan hal tersebutlah yang mengantarkannya pada kematian.
Namun Chairil bukan sembarang kesatria cinta bagi saya. Ia adalah kesatria cinta yang intelek, penuh perhitungan, dan hidup dalam dunia algoritmis yang sistematis. Chairil membuat citra baru untuk “professor” dalam kepala saya. Seorang professor yang tak berjarak dengan masyrakat, hidup urak-urakan, dan emosional. Sisi emosional dan bohemian Chairil dalam suatu kesempatan, membuat saya tergelitik.
Suatu hari, ketika HB Jassin membuat sebuah esai mengenai plagiarisme dan tujuan esai tersebut sebenarnya untuk menyentil Chairil yang memplagiat puisi seorang penyair Cina membuat Chairil meradang. Chairil langsung berniat untuk mendatangi HB Jassin setelah membaca esai tersebut. Kemudian, di sebuah teater pertunjukkan, Chairil menghampiri HB Jassin dan terlibat baku hantam dengannya. Chairil ditinju oleh HB Jassin dan menggerutu, serta berikrar akan membalas tinju HB Jassin. Setelah beberapa hari pertengkaran, Chairil mendatangi rumah HB Jassin. HB Jassin yang melihat Chairil sudah mempersiapkan kuda-kuda, sebab ia mengira Chairil datang untuk melanjutkan “ronde kedua” perkelahian. Ternyata, dengan memelas, Chairil berkata, “Jassin, aku lapar...”
Keluguan Chairil bagi saya menunjukkan bahwa ia adalah pribadi yang sederhana dan tidak banyak cincong. Kepribadian Chairil semakin nampak menjelang ajalnya, ditunjukkan oleh puisi-puisinya yang mulai mengarah pada masalah “kematian”, “kesia-siaan hidup”, dan “perenungan mendalam”. Chairil, yang pada awalnya mendeklarasikan diri sebagai “binatang jalang” yang ingin “hidup seribu tahun lagi” perlahan mulai menyadari bahwa ia bukan lagi “si cilik tidak tahu jalan” dan mulai melihat “hidup hanya menunda kekalahan” saja.
Dalam puisi Yang Terampas dan Yang Putus Chairil, menurut beberapa analis, Chairil sudah “mewasiatkan tempat kematiannya”. Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d.) sampai juga deru dingin. Perhatikan bagaimana “y.a.d” yang dimaknai sebagai “yang akan datang” dan penggunaan frasa “deru dingin” menggambarkan skakmat Chairil terhadap kehidupan. Hal ini, dibalik segala mitos mengenai Chairil, membuat saya melihat diirnya sebagai seorang “pengelana” yang mendapati akhir hidupnya secara tragis. Chairil benar-benar mati dikoyak-koyak sepi. Sekilas, saya seakan melihat orang-orang “besar” di “negeri ini” meninggal dengan begitu ironi. Seakan kematian orang-orang besar tersebut adalah bentuk “kekalahan” yang sebenar-benar kekalahan, dan mereka hidup hanya untuk “menunda kekalahan”.
Chairil begitu mempesona orang-orang lugu macam saya. Betapa tenaga-tenaganya dalam setiap puisi-puisinya masih hidup, dan saya curiga bahwa Chairil belum meninggal. Ia masih hidup dan akan “hidup seribu tahun lagi” meski jasadnya telah terurai oleh bakteri. Chairil bagi saya masih hidup. Kumpulan puisi-puisi Chairil adalah Chairil itu sendiri. Saya pikir dan memang agaknya, Chairil telah tuntas membuktikan dua pernyataannya: Ia berhasil hidup seribu tahun sebab puisi-puisinya masih dan sangat-sangat relevan untuk dibaca seribu tahun kemudian. Lalu, memang betul, hidup hanya menunda kekalahan. Setiap orang pada akhirnya akan “mampus dikoyak-koyak sepi” di penghujung kehidupannya.
27 April 2018


Tidak ada komentar