Header Ads

Pengepungan Wina dan Desa Rajeg

Sumber Gambar: Wikipedia

Tanggal 12 Oktober 1492 menjadi hari bersejarah bagi umat manusia di Eropa. Saat itu, dunia baru sudah ditemukan. Dunia yang didambakan, dunia surga bagi rempah-rempah yang selama itu—sebelum tahun 1492—hanya ada ditangan para pedagang yang ada di Konstantinopel (Istanbul). Selama itu Eropa merasa seperti pesakitan yang hanya mengharap iba dari Turki Utsmani. Jatuhnya Konstantinopel dan berubah menjadi Istanbul membuat peradaban Eropa benar-benar berubah. Konstantinopel kini bukan lagi milik 'barat', melainkan sudah menjadi milik 'timur' hingga kini—tahun 2017.  Jalur perdangangan dan alur perdagangan dimonopoli oleh Turki Utsmani hingga mau tak mau bangsa-bangsa di Eropa harus mengakali keadaan supaya mampu merdeka dari blokade yang dilakukan Turki Utsmani. Jawaban atas blokade itu adalah Pulau San Salvador.

Pulau San Salvador yang terletak di Bahamas, wilayah Karibia menjadi pulau yang paling kuat diyakini sebagai tempat berlabuh Colombus pertama kali di wilayah Amerika. Memang 12 Oktober 1492 Colombus tidak berlabuh di dataran utama Amerika. Namun jejak kaki Colombus memberi harapan yang lebih besar bagi Eropa setelah Vasco Da Gama terlebih dahulu memberi harapan dari Colombus. Vasco Da Gama menemukan rute alternatif untuk mencapai India dengan menyusuri Benua Afrika hingga bagian selatannya, menemukan Tanjung Harapan, kemudian dari Afrika bagian selatan langsung berlayar menuju India. Tempat surga rempah-rempah. Dengan mengetahui surga rempah-rempah, maka orang-orang Eropa tidak perlu mengharap pasokan rempah-rempah dari Konstantinopel (Istanbul).

Setelah penemuan Amerika tersebut, banyak hal-hal besar terjadi: Kolonialisasi Amerika, beberapa perang di Italia, masa kejayaan Kesultanan Turki Utsmani di bawah pimpinan Sultan Sulaiman, serta paling mengerikan adalah perang darah selama delapan puluh tahun di Eropa yang terjadi karena konflik agama. Saat itu dunia eropa berada di zaman Renaissance atau zaman kelahiran kembali. Sesuai namanya, Renaissance merupakan lahirnya kembali suatu modernitas Eropa yang dibangga-banggakan seperti masa-masa indah Yunani Kuno atau masa-masa adikuasa Romawi Kuno. Setelah peradaban Yunani Kuno dan Romawi Kuno runtuh (peradaban Yunani Kuno runtuh pada sekitar 300 SM atau setelah wafatnya Alexander Agung. Sementara Romawi Kuno runtuh pada sekitar 400 M atau setelah kota Roma jatuh karena serangan suku Jerman Visigoth), praktis eropa jatuh dalam masa kegelapan. Masa yang suram bagi eropa, masa saat peradaban benar-benar mencapai titik paling rendah. Eropa hanya bisa menonton peradaban Asia atau Timur sedang bersemi begitu mekarnya. China dengan dinasti Tang, Arab dengan Kekhalifahan Islam yang benar-benar menjadi pusat dunia, bahkan peradaban Nusantara yang saat itu mampu menegakkan bangunan semegah Candi Borobodur pada sekitar tahun 800 M ataupun Kerajaan Sriwijaya yang menjadi kekuatan maritim terkuat di timur jauh pada sekitar tahun 900 M.

Eropa tidak hanya bisa diam. Marcopolo menjadi sosok "pembangun". Catatan perjalannya ke China memprovokasi orang-orang Eropa. Rasa Iri dengan kemakmuran yang ada di China muncul di dalam hati. Muncul satu keinginan: Bagaimana Eropa bisa seperti cerita tentang China yang disampaikan Marcopolo. Dengan itu, berbondong-bondong sebuah arus perubahan budaya dan peradaban muncul. Berawal dari Italia dan dari sana lahir nama-nama revolusioner: Da Vinci, Michelangelo, Dante Alighieri, atau Machiavelli

Bangkitnya Eropa tidak berjalan dengan mulus. Konflik selalu menyertai dan itu pasti. Apalagi konflik tersebut dibalut oleh nuansa agama. Sesuatu yang sangat sensitif sehingga mampu menggerakkan Raja Richard I untuk jauh-jauh datang dari Inggris ke Tanah Al-Quds/Yudea untuk berperang. Merebut "tanah suci" dari genggaman orang-orang tidak pantas. Deus Le Volt benar-benar mampu menggerakkan hati orang-orang eropa untuk mengangkatkan senjata dan menyatukan perbedaan yang ada. Disini bisa disimpulkan bahwa agama adalah pemersatu.

Tapi apakah selamanya demikian? Memang selamanya dan harusnya demikian. Agama adalah pemersatu. Pihak-pihak yang tidak menyukai bersatunya suatu hal bisa saja mengambil celah dan —meminjam istilah klise— mereka akan melakukan adu domba. Adu domba yang dimaksud mulai tercium kala ada beberapa pihak yang tidak puas dengan Perjanjian Thordesilas atau Perjanjian Saragosa. Perjanjian yang dirancang oleh Sri Paus. Isinya: Membagi dua dunia untuk Kerajaan Spanyol dan Kerajaan Portugal. Secara akal sehat, bisa diketahui bersama bahwa dunia bukan hanya milik Spanyol dan Portugal. Disini mulai tercium semacam politik yang membuat Sri Paus, sebagai suatu simbol agama, menjalankan kepentingan politik untuk keuntungan beberapa golongan.

Oleh sebab itu terjadilah beberapa rentetan perang di tanah Italia. Perancis merasa tidak puas dengan keputusan Sri Paus. Bahkan Inggris dan negeri-negeri Jerman yang dikuasai oleh ratusan pangeran. Eropa saat itu berada dalam pergolakan politik amat mencekam. Apalagi pada tahun 1517, Raja Charles V diangkat menjadi raja Kekaisaran Romawi Suci. Lengkap sudah: Charles V menjadi raja Romawi suci, menjadi Raja Spanyol, Raja Naples, dan Raja seluruh wilayah Amerika Spanyol. Kekuasaan Charles V yang begitu besar membuat takut semua negara di Eropa. Ditambah lagi ketika Martin Luther menerbitkan 95 tesis yang memprotes indulgensi berbayar yang dilakukan oleh Vatikan. Maka Eropa selama seratus tahun terperosok dalam sebuah edisi perang berkepanjangan. Membawa agama sebagai panji perang untuk menyembunyikan agenda politik yang ada.

Anehnya, Agama juga menjadi pemersatu: Ketika Turki Utsmani mengambil keuntungan atas pergolakan di Eropa. Turki melihat peluang untung melebarkan sayap-sayap islam ke Eropa. Pada akhirnya, seperti Dinasti Umayyah yang berhenti melebarkan kejayaan Islam di Tours, Turki juga berhenti melebarkan Islam di Wina. Dua pengepungan terhadap Wina gagal. Padahal Sultan Sulaiman sudah memprediksi bahwa Wina akan jatuh karena Kekaisaran Romawi Suci —sebagai Kekaisaran yang bertanggung jawab akan Wina— pasti sedang sibuk berperang sesamanya sendiri dan melupakan kesadaran nasional. Tapi Sultan Sulaiman salah besar. Agama yang saat itu memecah belah Eropa memainkan peran ganda. Disatu sisi karena agama, negara-negara di Eropa saling bunuh. Disisi lain, karena Agama, mereka tidak rela apabila Turki Utsmani mengambil keuntungan dan melebarkan kejayaan Islam sampai melampaui Wina.

Sejarah juga mencatat: Bagaimana konflik ekstrem antara kaum Protestan & Lutheran yang bertentangan dengan Katholik Roma tiba-tiba saja mengadakan persekutuan untuk mengalahkan Turki Utsmani dalam pertempuran laut Lepanto. Aneh memang, tapi begitulah. Puncak keanehan tersebut terjadi pada tahun 1648, saat Perjanjian Perdamaian Westfalen di ratifikasi. Negara-negara di Eropa berkomitmen untuk berdamai dan tidak saling bunuh karena agama. Perdamaian Westfalen merupakan batu loncatan menuju eropa yang lebih baik, eropa yang lebih cerah. Tahun 1648 bisa dikatakan sebagai penutup zaman Renassaince dan merupakan awal era-Modern Eropa. Bahkan awal era-Modern dunia, karena di tahun yang sama Kaisar Shunzhi dari Dinasti Qing sudah 4 tahun ditasbihkan sebagai Kaisar seluruh Tiongkok setelah perang berdarah bertahun-tahun. Juga tahun 1648 adalah tahun yang ke-33 pasca pengepungan Osaka yang mengukuhkan kekuatan Keshogunan Tokugawa di Jepang.

Beberapa ratus tahun setelah tahun 1648, tepatnya pada bulan Desember tahun 2017 di Negeri Indonesia, ada sebuah kejadian cukup menarik: Sebuah selebaran viral di media sosial. Selebaran tersebut berisikan tindakan sekelompok oknum yang menghalangi kebebasan beragama. Kejadian tersebut terjadi di Desa Rajeg, Tangerang. Selebaran tersebut berisi pembatasan kegiatan beragama bagi penganut agama Non-Muslim di suatu perumahan di Desa Rajeg. Ada tiga hal yang dijelaskan dalam selebaran tersebut.

Pertama, warga Non-muslim dilarang mengalihfungsikan rumah menjadi tempat ibadah. Kedua, kegiatan tersebut —mengalihfungsikan rumah menjadi tempat ibadah— boleh dilakukan dengan catatan tidak membawa tamu dari luar, tidak boleh menggunakan pengeras suara, dan tidak membawa pemuka agama. Ketiga, dalam hal duka, keluarga diimbau menguburkan jenazah dalam waktu 1x24 jam. Keempat, seluruh warga dalam perumahan diwajibkan melaporkan seluruh kegiatan kepada pengurus RT atau RW minimal tiga hari sebelum dilaksanakan.

Selebaran tersebut tidak sekedar viral sebagai berita bohong yang biasa bersliweran di dunia media sosial Indonesia. Pihak kepolisian Indonesia sudah memastikan keberadaan selebaran tersebut benar adanya. Selebaran tersebut merupakan simbol nyata intoleransi dan benar-benar ada di Bumi Indonesia yang menjunjung tinggi nilai Persatuan sebagaimana termaktub dalam sila ketiga dari Pancasila.

Jelas hal ini membawa Indonesia dalam keadaan Eropa pada Abad ke-16, abad penuh pergolakan agama. Penganut Lutheran melarang penganut Katolik beribadah dan sebaliknya. Bahkan sampai tindakan lebih keji: Pembunuhan terhadap penganut agama yang bertentangan. Keadaan tersebut jelas memporak-porandakan peradaban di Eropa. Membuat perkembangan peradaban menjadi stagnan dan jalan ditempat. Gallileo Gallilei sendiri harus menjadi contoh nyata mandeknya peradaban di Eropa karena pergolakan atas nama agama tersebut: Dia di hukum mati karena dianggap menyebarkan paham sesat mengenai teori Heliosentris, teori yang menyatakan bahwa bumi mengelilingi Matahari. Teori yang membawa perubahan besar bagi kemajuan peradaban, yang mana saat itu Eropa masih berpegang teguh pada teori Geosentris. Bumi dikelilingi Matahari.

Abad kelam tersebut jelas tidak ingin diulangi oleh Eropa. Maka perdamaian Westfalen hadir sebagai bukti nyata bahwa Eropa ingin maju kedepan dan melupakan segala pertikaian agama yang ada. Menunjukkan kembali persatuan mereka sebagaimana mereka bersatu dan saling bahu-membahu melawan Turki Utsmani yang mengepung Wina dua kali (1521 dan 1547) di Abad pergolakan tersebut. 

Masyarakat Indonesia seharusnya melaksanakan petuah yang sudah diucapkan oleh Soekarno: Jasmerah. Jangan sesekali melupakan sejarah. Sejarah telah mencatat bahwa pertentangan karena agama telah merusak peradaban. Agama adalah pemersatu, sebagaimana yang ditunjukkan Eropa kala bahu-membahu menghalau Turki Utsmani di Wina. Agama bukan alat pemecah belah dan alat melanggengkan kekuatan politik.

Indonesia memang masih negeri yang muda. Untuk sebuah negara yang terbentuk pada tahun 1945, jelas Indonesia masih jauh dari Eropa yang peradabannya sudah terbentuk sebelum tahun 400 M, tahun ketika Kerajaan Kutai berdiri dan diyakini sebagai kerajaan pertama di Indonesia. Dan mungkin sebuah peradaban kerajaan pertama di Indonesia.

Meski muda, tidak ada salahnya Indonesia berguru pada Eropa. Bukan meniru, tapi berguru pada Eropa sebagai murid dari timur yang teladan. Jika eropa mampu mengadakan perjanjian Westfalen pada tahun 1648 untuk menghentikan segala kekerasan dan konflik ekstrem yang mencatut agama, mengapa Indonesia tidak bisa menciptakan "Westfalen" sendiri untuk menghentikan segala konflik bernuansa agama? Bukan hanya konflik bernuansa agama, tapi konflik yang mampu mengikis identitas nasional dan persatuan Indonesia. 

Indonesia sudah membuktikan sebenarnya. Lahirnya Indonesia pada tahun 1945 sebagai negara multi-etnis sudah membuktikan bahwa Indonesia bukanlah negara sembarangan. Bahkan negara seperti Uni Sovyet yang tidak kalah multi-etnisnya atau Yugoslavia tidak mampu bertahan lama seperti Indonesia. Indonesia sudah mampu membuktikan bahwa menyatukan perbedaan itu adalah hal yang mungkin. Masalah-masalah dan isu-isu perpecahan yang ada sekarang ini dan menghampiri Indonesia sebenarnya hanyalah bagian dari perjalanan sejarah peradaban. Setiap sejarah peradaban memiliki permasalahannya tersendiri. Sama seperti Eropa yang pada mulanya "sedikit damai" di abad ke-14 dan abad ke-15 perlahan dikacaukan oleh pergolakan agama. Pada akhirnya saat Turki Utsmani dua kali mengepung Wina, mereka sadar bahwa jika terus-menerus berperang sesamanya Turki akan benar-benar menguasai Eropa.

Ketika Turki Utsmani mencoba mengepung Wina untuk ketiga kalinya pada tahun 1683, itu menjadi pengepungan terakhir. Eropa sudah kuat, bersatu, dan siap menjadi penguasa dunia hingga beberapa ratus tahun kedepan. Sampai sekarang malah. 


Hal itu harus dipelajari oleh Indonesia. Jangan sampai terlarut-larut dalam konflik bernuansa agama. Banyak bahaya mengintai dan banyak ancaman akan datang untuk menghancurkan Indonesia tercinta yang susah payah dibangun oleh para pendiri bangsa pada tahun 1945 ini.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.