Neraka Kala 1914
Sumber Gambar: pinterest.com
Zaman sudah sedemikan berkembang, hingga kini semua orang —setidak-tidaknya— bisa menyaksikan neraka di muka bumi. Neraka tersebut tidaklah membuat bumi binasa, malahan neraka tersebut jadi tempat bernaung bagi Alex. Neraka itu berukuran empat kali empat meter dengan langit-langitnya berwarna putih dan empat penjuru dindingnya juga berwarna putih. Alex membayarkan uang sebesar empat ratus ribu Rupiah kepada sang pemilik neraka. Meski terbilang mahal untuk ukuran neraka-neraka pada umumnya, yang sebenarnya bisa dihuni hanya dengan menyodorkan uang sebesar dua ratus limapuluh ribu Rupiah.
Dalam neraka tersebut, Alex pernah membaca suatu buku yang ia katakan sebagai buku yang teramat sejuk untuk mendinginkan hatinya yang sudah membara-bara, tapi bara itu tidak menyala bagai pijaran api. Dingin dan juga beku, begitulah bara itu berwujud. Buku itu ditemukan Alex didalam sebuah kotak kardus yang tergeletak di pinggir jalan, tak jauh dari neraka tempat ia tinggal yang ada di sebuah gang. Jalan itu bernama Jalan Raya Keadilan. Di jalan tersebut, orang-orang lalu-lalang dengan membawa beban hidupnya, baik dengan kendaraan ataupun berjalan kaki. Ada juga anak-anak kecil yang berlari-lari dengan seragam es-denya, entah itu baru pulang dari sekolah ataupun pergi dari sekolah. Alex tidak bisa menerka. Tapi Alex sangat bisa menerka, bahwa tidak akan mungkin ada uang yang tergeletak di pinggir jalan atau anak es-de yang lalu lalang memberikan Alex uang. Dalam kekesalannya teramat besar karena tidak memiliki uang, pencerahan datang dalam bentuk kotak kardus bewarna ungu yang tergeletak di pinggir jalan. Sekelebat saja Alex memungut kotak kardus itu, membawanya pulang ke Neraka tempat ia bernaung selama menjalani kehidupan di dunia kerja. Neraka itu kata Alex, "merupakan sebaik-baik tempat yang pernah aku huni"
"Berhentilah menyebut kos ini sebagai neraka! Sudah empat juta tiga ratus empat puluh lima ribu enam ratus sembilan kali kau menyebutnya!" Xela menembis Alex. Bosan mendengar lantunan kata-kata Alex ketika tidak memiliki sepeserpun uang.
Buku yang Alex temukan itu adalah buku yang cukup asing untuk didengar seorang lulusan es-em-pe yang tidak pernah bergelut dengan pelajaran kalkulus. Maka, Alex hanya bisa mengumpat Xela dalam hatinya dan memberinya cap sebagai manusia sinting kala sedang melihat Xela mengerjakan tugas kuliahnya —Xela adalah mahasiswa perguruan tinggi jurusan Matematika— yang teramat susah untuk dipahami oleh manusia normal.
"Analisis penyelesaian volume benda putar dengan kalkulus," sayup-sayup suara Alex terdengar kala membaca judul dari makalah yang sedang dikerjakan Xela. Sementara itu, disudut neraka, berputar-putarlah baling-baling dari kipas angin yang ukurannya tidak terlalu besar. Kipas angin itu hanya sebesar galon air mineral yang biasa diisi ulang Alex kala habis dengan biaya sebesar tiga ribu rupiah. Sambil menikmati tiupan sepoi-sepoi dari kipas angin, Alex mulai mengeluarkan buku yang terletak di dalam kardus ungu yang bagian atasnya menganga. Segera dibaca buku tersebut tanpa Alex peduli judul yang melekat pada buku itu; Aleksey Verginovich Mencari Cinta di Gallipoli. Segera buku itu dilahap oleh Alex dan sempat saja dalam hatinya ia berceletuk, "Semoga saja setelah membaca buku aku bisa mendapatkan uang"
*****
Kini tanggal sudah beristirahat di 4 Mei. Enam bulan dua belas hari berlalu setelah Alex membaca buku tersebut. Siang itu terik membara-bara. Matahari menujulang tinggi diatas. Di Jalan Raya Keadilan, kehidupan tetap saja berjalan seperti biasa. Orang-orang masih seperti biasa, membawa beban hidupnya. Baik dengan kendaraan atau berjalan kaki. Anak-anak es-de masih berlari-lari mengisi masa mudanya. Entah yang berlari menuju sekolah atau berlari untuk pulang ke rumahnya.
Entah ada sebuah kesalahan asupan nutrisi yang diterima Alex, siang itu, tiba-tiba saja Alex membahas keadaan yang sedang terjadi di Palestina.
"Melihat api yang ada di Al-Quds —Palestina— ini aku jadi malu, Xel," kata Alex.
"Eh? Ada apa gerangan Alex? Apa kau kesurupan?" Xela keheranan.
Alex rupanya terpana pada sosok Von Kressenstein, salah satu panglima perang Jerman yang pada saat Perang Dunia Pertama membantu Kekhalifahan Turki Utsmani dalam menghadapi pasukan sekutu. Terutama perjuangan Kressenstein mempimpin pasukan Jerman untuk mempertahankan Palestina dari serangan sekutu. Memang saat itu bantuan Kressenstein itu hanyalah bersifat politis.
"Kressenstein tidak membantu Utsmani atas dasar Ukhuwah Islamiyah. Tapi itu lebih baik dari negara-negara tetangga di sekitar Al-Quds saat ini, yang tiada sama sekali membantu penderitaan mereka yang ada di Al-quds," Alex menggerutu.
"Ditambah lagi sekarang ini, kita hanya bisa memekik-mekik bagai nyamuk. Padahal kita diciptakan dengan akal, dan akal tidak hanya dipakai untuk memekik saja! Benar-benar malu aku dengan Von Kressenstein. Benar-benar malu aku pada tentara Kekaisaran Jerman yang gugur di medan juang demi menyelamatkan bumi Al-Quds dari serangan sekutu. Apalagi ketika aku mengetahui fakta sejarah: Bahwa orang-orang di Hejaz sana menusuk Turki Utsmani dari belakang lewat bantuan Lawrence si Arabia itu. Sementara kita disini, sibuk menjual tangis darah di Al-Quds sebagai ajang telanjang rasa simpati kita. Telanjang untuk memberitahukan pada dunia: 'Hei, lihatlah aku, Aku seiman dengan mereka yang ada di Al-Quds dan aku prihatin!'" Alex mulai mengepalkan tangan, menyesali kebodohannya.
Memalukan. Itu tanggapan Alex ketika mengetahui bahwa pada Perang Dunia Pertama, justru Von Kressensteinlah yang membantu Khalifah Mehmed V dan Tiga Pasha untuk mempertahankan Palestina. Bukan Emir di Yaman, Yordania, bukan Raja di Arabia, bukan penguasa Mesir, bukan penguasa Iran. Alex juga mengetahui bahwa Von Kressenstein tidak sedang benar-benar ingin melindungi bumi Al-Quds yang semakin di gerogoti oleh antek-antek Heirzl. Dia hanya ingin membuktikan bahwa ia adalah orang Jerman yang mampu menggenggam dunia. Tapi setidak-tidaknya, dia menunjukkan totalitas. Mengerahkan segala daya usahanya. Dibanding mereka yang berpangku tangan dengan gawainya dan menunjukkan penyakit kambuhan: Simpati musiman.
"Lalu aku lihat, orang-orang di Hejaz, Syam, orang-orang di Teluk Persia, nampak dengan bangga sambil memekikkan 'Nasionalisme' sembari melawan mereka yang dengan darah mempertahankan Al-Quds. Dimana Ukhuwah Islamiyah pada saat itu, tahun 1914?" Alex lagi-lagi menggerutu.
Ketika Alex menyinggung masalah Nasionalisme, Xela yang semula hanya membatu sembari memikirkan IPKnya yang tak kunjung membaik, tiba-tiba mulai angkat bicara dan menganggapi ceramah dari Alex.
"Nasionalisme itu penting, Lex!" Xela menyerang keraguan Alex terhadap Nasionalisme yang mekar di Jazirah Arab pada awal abad 20. Xela menerangkan, bahwa Negara Indonesia adalah multi-etnis. Indonesia dihuni orang-orang yang terdiri dari berbagai suku bangsa. Nasionalisme menyatukan segala perbedaan suku bangsa. Bhinneka Tungga Ika, berlaku sebagai penyatu dan pengikat segala perbedaan.
"Dari kalimat yang kau katakan, mengapa kau meragukan Nasionalisme masyarakat Arab?" tanya Xela.
Alex menjawab. "Nasionalisme Indonesia adalah sebaik-baik bentuk nasionalisme"
Indonesia tidak dihuni hanya orang-orang dari suku 'Indonesia'. Bahkan tidak ada yang namanya suku 'Indonesia'. Indonesia disusun oleh berbagai suku bangsa. Selama 70 tahun lebih, Indonesia tetap satu. Kehebatan yang ditunjukkan oleh Indonesia tidak bisa ditiru oleh banyak negara.
"Lihat misalnya, orang-orang Slavia di Balkan itu. Broz Tito menyatukan mereka, namun setelah Tito mati, matilah juga itu Nasionalisme Slavia di Balkan itu. Karena hal itu justru yang tidak ada di Arabia sana. Sebagai sesama orang Semit, mereka terpecah. Okelah kalau orang Semit dan Turk serta orang-orang Indo-Irania itu tak dapat bersatu, namun harusnya itulah dimana 'Nasionalisme' itu harusnya ada. Menyatukan perbedaan. Sayangnya, mereka memakai 'Nasionalisme' hanya sebagai bungkusan boyak untuk menutupi Jingoisme mereka yang sudah jelas-jelas nampak. Emir ini menguasai wilayah ini, Sultan ini menguasai wilayah ini, bahkan ada konon suatu pulau kecil di Teluk Persia juga ada Emirnya sendiri! Bahkan daratan diujung teluk Persia, dekat Basrah, juga ada Emirnya!" Alex menggerutu sepuncak-puncaknya.
Kekacauan terjadi pada saat Perang Dunia Pertama. Mengingat di medio 1910-an harusnya ada persatuan umat. Tapi yang ada hanyalah perpecahan. Perang sesama kaum muslimin di Jazirah Arab sembari telanjang-telanjangan soal 'Nasionalisme' yang kata Alex, "Sangat murahan," lalu alex melanjutkan, "Kalau aku jadi mereka, aku malu. Aku malu pada Von Kressenstein. Aku malu pada Wihelm II. Tentunya, aku malu pada Yang Maha Rahman"
Xela mulai muak dengan ocehan Alex. Xela hanya menganggap ceramah Alex sebagai ocehan tak berguna. Hanya ocehan tanpa aksi nyata. Xela mulai mempertanyakan urat malu Alex, yang hanya bisa memprotes fakta sejarah yang telah terjadi. Alex bukanlah pejuang fisabilillah yang bertempur di Sinai, Gaza, Beersheba, atau Gallipoli. Gerutuan Alex sama saja dengan mereka yang cuma koar-koar musiman membela Al-Quds. Bedanya: Alex membungkus ketidakacuhannya dengan bumbu-bumbu intelektual. Padahal sama saja: Anak-anak manusia yang cuma berpangku tangan kala melihat saudaranya yang terkulai lemas ditindas sekejam-kejamnya makhluk.
Tapi yang menarik, Alex memang mengetahui dosa-dosa mereka yang memerangi Turki Utsmani yang sedang berperang melawan sekutu. Dosa orang-orang Jingois, terutama salah satu Emir yang menguasai tempat terjadinya pertempuran Yarmuk. Juga Emir-emir lainnya. Emir-emir yang sibuk dari 1967, berpangku tangan meternak bangsanya sendiri jadi manusia-manusia Jingois.
"Sejarah tidak bisa diubah bung!" Xela mulai menyadarkan Alex pada kenyataan. Tidak diragukan lagi, Alex memang jago dalam menerima kenyataan. Sejarah juga mencatat, bahwa Alex pernah ditinggal menikah oleh kekasihnya, yang sudah sepuluh tahun dipacarinya.
Kipas angin di neraka itu tiba-tiba mati bersama lampu yang ada di langit-langit neraka. Listrik padam pada siang hari. Dan semoga saja listrik tidak pernah padam dalam hati Alex, yang beberapa tahun ini mulai pada sehingga tidak ada cahaya yang menerangi Alex, semenjang ia ditinggal menikah oleh kekasih hatinya, dulu.


Tidak ada komentar