Header Ads

Senja dan Stalingrad

Sumber Gambar: Getty Images
   
Senja menjadi salah satu kata yang acapkali datang dalam sajak-sajak. Kata senja agaknya memiliki kekuatan magis tersendiri serta mampu merobohkan tiang-tiang kehampaan yang ada dalam suatu sajak. Sajak-sajak atau puisi-puisi bila diselipkan kata senja, akan bertambah nilai estetisnya. Bahkan sampai merubah peradaban. Begitulah dahsyatnya kekuatan dari kata senja. Para pujangga-pujangga yang sudah malang melintang dalam kegiatan literasi atau masyarakat yang baru berkenalan dengan kegiatan literasi, kemudian membuat suatu sajak sering menggunakan kata senja untuk memperindah karyanya. Memperindah anak-anak rohani mereka. 

Nampaknya, kata senja sudah menjadi kewajiban untuk selalu diikutkan dalam setiap karya. Makna sejati dari "indah" atau "estetis" akan terasa hambar apabila tidak ada terselip kata atau konsep senja didalamnya. Sehingga, lambat laun dan pasti, ada beberapa golongan yang mulai kritis dan mulai melirik tajam serta mulai mencoba untuk menghilangkan kata senja dari peredaran. Atas nama kebosanan, muak, ataupun terlalu ngehek dan lebay. Sejatinya memang tidak akan berkurang harkat dan martabat dalam suatu karya apabila diselipkan kata senja didalamnya. Kata senja juga tidak dilarang penggunaannya dalam konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Meskipun kata senja sering kali digunakan dalam suatu karya sastra, tapi karya tersebut tidak menghasilkan sesuatu yang membosankan.

Pada umumnya hal-hal yang diulang berkali-kali akan menghasilkan suatu kebosanan. Namun perlu juga dilihat dua hal yang mewakili jutaan pembelaan untuk mengatakan bahwa hal yang diulang berkali-kali itu sebenarnya tidak membosankan, jika di telaah lebih jauh. Pertama, hal yang berulang-ulang akan itu merupakan cikal bakal dari rutinitas. Rutinitas itu lahir dari suatu hal yang berulang-ulang. Banyak manusia sekarang ini menggantungkan hidupnya pada rutinitas. Rutinitas menjadi kunci bagi kelangsungan hidup beberapa umat manusia sekarang ini. Kegiatan mereka mulai dari fajar mengaung hingga sore menyedu tersaji dengan amat sistematis dan berulang-ulang dalam suatu periode tertentu. Bahkan sepanjang masa mungkin, sehingga dari fenomena yang demikian ini rutinitas nampak menjadi kebutuhan primer manusia. Penuntun hidup manusia dari kehancuran yang menanti mereka dalam kehidupan dunia.

Bisa saja rutinitas menjadi suatu agama baru yang menggantikan agama-agama yang sudah terlebih dahulu ada dan menancapkan pengaruhnya dengan amat kuat di tengah-tengah tatanan kehidupan manusia. Dahsyatnya suatu rutinitas dalam kehidupan manusia pada akhirnya merobohkan anggapan bahwa sesuatu yang berulang-ulang itu membosankan. Bagaimana mungkin manusia dapat hidup dan bergantung pada sesuatu yang membosankan? Kodrat manusia adalah petualang. Mencari pengetahuan yang baru dan bermanfaat bagi dirinya. Kebosanan tidak akan mengantarkan manusia pada kodrat mereka. Maka dari itu, sulit rasanya untuk mengatakan bahwa hal yang berulang-ulang itu membosankan dan disaat yang sama manusia bergantung pada hal yang membosankan tersebut. Sejarah belum pernah mencatat manusia hening dan mempertahankan kebosanan yang dideritanya. Terlebih lagi,  jika hal yang berulang-ulang itu membosankan, maka di buku sejarah kita akan membaca bagaimana manusia berperang habis-habisan untuk melenyapkan rutinitas dari muka bumi ini. Karl Marx tidak akan pernah menerbitkan buku Das Kapital sebagai karya intelektual paling luhur yang ia miliki untuk menyerang sistem kapitalisme. Mungkin saja ia akan menerbitkan buku Das Rutinica yang menyerang dengan pedas mengenai rutinitas.

Kedua, hal yang berulang-ulang itu sebenarnya konsep lain untuk menjelaskan makna dari kata sistem. Kerapkali memang kita mendengar pelbagai macam bentuk dari kata sistem yang dipadukan dengan kata-kata lain hingga menelurkan frasa-frasa ataupun kumpulan kata-kata yang nampak indah. Sistem informasi, sistem pemerintahan, sistem kerja, sistem penilaian, sistem pembelajaran, sistem sosial, dan berbagai varian sistem lainnya. Kita juga kerap mendengar padanan kata yang terlintas apabila kata sistem didengungkan. Alur, pola, metode, cara, dan sebagainya. Dalam pengertian sederhana, sistem berarti adalah kumpulan dari beberapa hal yang dirancang secara bersusun atau berurutan, sesuai akal logika dan digunakan untuk mencapai tujuan tertentu.

Kita ambil contoh dalam sistem pendidikan. Sistem pendidikan di Indonesia dimulai dari sekolah dasar. Memang ada beberapa jenjang pendidikan dibawah sekolah dasar yang menjadi awal dari dimulainya masa pendidikan seorang anak, seperti Taman kanak-kanak, Playgroup, atau Paud. Namun sekarang ini beberapa jenjang tersebut kita abaikan dan disepakati bahwa sekolah dasar adalah awal permulaan dari jenjang pendidikan yang ada. Jadi, seorang anak Indonesia memulai jenjang pendidikannya di sekolah dasar. Setelah selesai, ia akan melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah pertama. Kemudian ia akan melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah atas atau sekolah menengah kejuruan selepas ia menamatkan pendidikan di sekolah menengah pertama.  Lalu dari setelah menyelesaikan pendidikan di sekolah menengah atas, ia sudah bisa dikatakan menamatkan pendidikan sekolahnya. Status siswanya sudah hilang dan ia bisa bebas memilih, apakah ingin menjadi mahasiswa dan melanjutkan jenjang pendidikan tinggi di perguruan tinggi ataukah langsung terjun ke dalam dunia kehidupan yang keras. Bekerja, berwirausaha, berkeluarga, dan lain sebagainya. Dari sistem pendidikan yang ada di Indonesia, kita bisa melihat tahapan-tahapan yang ada. Dari sekolah dasar, kemudian sekolah menengah pertama, dan berakhir di sekolah menengah atas. Sistem pendidikan di Indonesia juga menerapkan kaidah logika yang kuat. Tidak mungkin seseorang yang tidak menamatkan pendidikan sekolah dasar bisa melompat langsung ke pendidikan sekolah menengah atas tanpa melalui pendidikan sekolah menengah pertama atau sederajat dengan itu. Sistem pendidikan Indonesia jelas dirancang untuk tujuan mulia: Mencerdaskan anak bangsa sesuai dengan amanat pembukaan undang-undang dasar negara Indonesia tercinta ini.

Jika diamati, sistem pendidikan di Indonesia sebagaimana yang sudah diuraikan tidaklah mengalami perubahan berarti. Kita ambil rentang tahun dari tahun 2000 hingga 2017, sistem pendidikan Indonesia tetap sebagaimana yang diuraikan di atas. 17 tahun sudah cukup untuk menjelaskan, ada sesuatu yang berulang disana. Pelaku yang terlibat dalam sistem pendidikan Indonesia itu memang tidak sama, tapi laku yang ada tetaplah sama. Di tahun 2000, setelah tamat dari sekolah dasar, anak-anak Indonesia melanjutkan pendidikannya menuju sekolah menengah pertama. Hal itu tidaklah berubah pada tahun 2017 yang berarti: Hal yang sama terus menerus berulang, lulus dari sekolah dasar lanjut ke sekolah menengah pertama. Oleh sebab itu, "hal yang berulang-ulang" bisa dikatakan sebagai intisari dari suatu sistem. Sistem itu berulang-ulang, konstan, dan stagnan.

Lalu mungkin terpikirkan dan menjadi pertanyaan utama, apakah sistem dan rutinitas itu berbeda? Padahal kedua-duanya terdiri dari suatu laku yang berulang-ulang dan ada tahapan-tahapan sistematis, berurut di dalamnya. Sesuatu yang rutin dan sesuatu yang sistemik bisa kita pikirkan sebagai sesuatu yang teratur, runtut, dan terlihat logis.  

Perbedaan itu mungkin bisa kita lihat secara jelas pada mereka yang mengharap keajaiban saat Perang Dunia Kedua dahulu. Tepatnya di kota Stalingrad ketika bunyi peluru jadi tanda akan akhir hidup dari seorang manusia. Banyak kematian terjadi di Stalingrad bersama dengan ketakutan-ketakutan muncul dan menggumpal menjadi satu, buat bising malam hari yang biasanya hening. Stalingrad adalah kota di Barat daya Russia, sekarang ini kota itu bernama Volgograd. Kota yang dialiri oleh sungai Volga itu jadi teater penting dalam invasi Nazi Jerman ke Uni Sovyet (Russia) sebagai bagian dari kekejaman Perang Dunia Kedua. Pihak Nazi  Jerman merancang suatu operasi yang disebut Operasi Barbarossa dan tujuan utama dari operasi itu adalah menaklukan Uni Sovyet. Operasi Barbarossa agar dapat mencapai tujuan sebagaimana diharapkan oleh Wehrmacht (Angkatan bersenjata Nazi Jerman) memerlukan suatu instrumen dalam pelaksaannya. Bagaimana Heer (Angkatan darat), Lutwaffe (Angkatan Udara) dan mungkin Kriegsmarine (Angkatan laut) sebagai sendi-sendi dari Wehrmacht bisa berjalan dengan baik dan tidak tumpang tindih pergerakan mereka dalam menjalankan komando agung dari Adolf Hitler, pemimpin agung Nazi Jerman pada saat itu. Operassi Barbarossa jelas membutuhkan sistem agar bisa berjalan dengan baik, bukan rutinitas. Jelas karena rutinitas tidak punya pelaku didalamnya. Rutinitas hanyalah sebuah laku tanpa komando yang tidak memiliki juntrungan. Beda jelas dengan sistem, meskipun berulang-ulang dan penuh repetisi, suatu sistem jelas punya suatu komando jelas. Punya pemimpin dan punya pengarahan yang jelas. Tidak hanya sekedar merumuskan tujuan untuk mencapai suatu hal, tapi memiliki "pemandu jalan" untuk mencapai tujuan tersebut.

Operassi Barbarossa saat itu menjadi sesuatu yang diulang-ulangkan oleh pihak Nazi Jerman dan menyimpan harapan kejayaan yang teramat besar dari bangsa Jerman. Selain menaklukan Uni Sovyet, Operasi Barbarossa juga merupakan perwujudan dari puncak kejayaan bangsa Jerman. Bukan sekedar penaklukkan dan menunjukkan superioritas ras Jerman arya di hadapan Uni Sovyet yang barbar, tapi simbol bahwa harga diri bangsa Jerman masih ada. Mereka bukan pesakitan dan bangsa budak yang tunduk pada secarik kertas yang ditandatangani di Versailles pada tahun 1919, atau lebih tepatnya Perjanjian Versailles yang menandai menyerahnya Jerman pada sekutu saat Perang Dunia Pertama. Untuk itu, agar abadi, maka simbol tersebut harus didengungkan berulang-ulang, disajikan berulang-ulang, agar sejarah mencatat.

Tapi pihak Nazi Jerman lupa satu hal. Sesuatu yang berulang-ulang tidak pernah menentukan nasib suatu peradaban. Nasib itu bergantung pada sesuatu yang tinggi dan hanya mampu diraih oleh mereka yang tinggi. Bukan mereka yang "merasa tinggi" apalagi mengandalkan sesuatu yang berulang-ulang. Nazi Jerman pada saat itu memang sudah "merasa tinggi" karena mampu mengobrak-abrik Uni Sovyet di tanah mereka sendiri. Hingga akhirnya perasaan itu dihadapkan pada kenyataan pahit di Stalingrad, penghujung tahun 1942. Pertempuran Stalingrad terjadi dari 23 Agustus 1942 hingga 2 Februari 1943. Dua Bulan awal pertempuran memang membuat Jerman yakin akan adanya kemenangan dalam pertempuran. Tapi, musim dingin yang datang membalikkan segalanya dan membawa petaka. Musim dingin yang datang di penghujung tahun 1942 memulai kehancuran pasukan Jerman di Stalingrad, hingga pada akhirnya mereka bertekuk lutut pada 2 Februari 1943.

Kedatangan musim dingin pembawa petaka hingga bertekuk-lutunya pasukan Nazi Jerman di Stalingrad tidak hanya lalu begitu saja tanpa membawa kisah. Buku Neraka di Stalingrad karya Franz Scheneider misalnya, dengan penuh sendu mendokumentasikan isi dari surat dari para tentara Nazi Jerman dengan keputusasaan yang sudah tak tertahankan. Surat-surat para tentara tersebut dikemas dalam kata-kata penuh keputusasaan, kehampaan, dan teruntai dengan manis layaknya suatu karya adiluhung. Diantaranya ada surat berisi:

    Kami diharapkan mati dengan heroik,
    mengilhami dan menyentuh hati,
    dari keyakinan hati dan untuk suatu alasan yang hebat.
    Tetapi dalam kenyataannya
    bagaimana sesungguhnya kematian itu disini?
    Disini mereka mengerang, kelaparan sampai mati, membeku sampai mati

Kata senja yang biasanya ada untuk memoles sajak-sajak menjadi indah nampaknya kurang populer untuk dimasukkan dalam surat-surat terakhir para tentara itu. Hanya sedikit kata senja terselip dalam surat-surat tersebut. Hal itu memang tidak perlu dipertanyakan, karena jelas-jelas kata senja hanya ada di Indonesia, tidak ada di Russia sana. Kata senja mekar dan tumbuh serta beranak-pinak di Indonesia. Penerjemah buku tersebut tidaklah perlu disalahkan karena tidak menambahkan kata senja yang agung itu kedalam terjemahannya, karena sebenarnya Stalingrad sendiri sesungguhnya adalah bentuk senja yang lebih sempurna, lebih menyentuh hati dan sanubari untuk direnungkan di banding makna senja yang kita pahami lewat Kamus Besar Bahasa Indonesia, yaitu "waktu (hari) setengah gelap sesudah matahari terbenam"

Stalingrad adalah evolusi mutakhir dari kata senja dan jika dipikir-pikir, tidak seperti kata senja yang terkesan lembek termehek-mehek ngehek, Stalingrad nampak lebih gagah dan tahan terhadap tilas-tilas usang yang selalu menghampiri kehidupan. Tilas-tilas usang itu, kadangkala menghampiri ingatan manusia melalui kata senja, membuat manusia itu menjadi ringkih dan teringat akan kedigdayaannya di masa lampau yang pada dasarnya berlawanan dengan realitas masa kini. Hal yang demikian justru merusak, karena hanya membuat lemah manusia. Sebaliknya, bila kata senja berevolusi menjadi Stalingrad, maka tilas-tilas usang itu tidak hanya sekedar mengingatkan manusia akan kedigdayaannya di masa lampau. Tilas-tilas itu menyerap ke dalam darah sebagai pesan-pesan patriotik dari pejuang-pejuang yang dengan segenap tumpah darah mengusir tentara Nazi Jerman dari bumi Russia pada tahun 1943. Berjuang sampai titik darah penghabisan, usir penganggu yang rusak keharmonisan hidup.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.