Header Ads

Contek


Sumber Gambar: Republika.com
Apakah manusia selama hidupnya menelurkan pikiran yang benar-benar merupakan hasil pertemuan sperma-sperma dan ovum-ovum sehingga dari pertemuan itu jadilah embrio yang saat ini disebut sebagai "ide"? Berangkat dari ide maka akan ditemukanlah banyak hal. Aksi, tindakan, cara pikir, pola pikir, dan hal-hal yang demikian itu dirangkum dalam apa yang disebut sebagai "Materialitika". Pola kelahiran materi yang berasal dari ide sangatlah agung dan menjadi panduan utama dalam kehidupan. Kata-kata mutiara nan hampir boyak semacam "dahulukan berpikir sebelum bertindak" menjadi salah satu dari trilliunan alasan bahwa ide selalu mendahului materi.

Materi yang hebat akan tercipta dari ide yang hebat pula. Kini fokus kajian utama adalah mengenai proses kelahiran ide. Darimanakah ia berasal? Haruskah ia asli dari pikiran manusia atau bolehkah kita memberikan "toleransi" apabila ia tidak murni berasal dari pola pikiran manusia? Sebelum berangkat untuk melihat hal itu secara dalam, perlu kita sadari sedikit mengenai jalan pikiran manusia. Kita ambil kasus sederhana. Alkisah, seseorang bernama Panjul Septianing sedang berada di hutan rimba. Kemudian dia bertemu dengan seekor harimau yang ukuran tubuhnya sebesar gajah. Apa yang harus dilakukan oleh Panjul Septianing dalam keadaan tersebut? Banyak jawaban akan terlontar dan pikiran yang terkuras untuk mengambil langkah selanjutnya dari kita yang membayangkan diri menjadi Panjul. Apalagi Panjul sendiri —kalau dia benar-benar ada— yang menghadapi dan mengalami situasi tersebut. Tentu dalam kondisi tersebut, pentinglah kiranya untuk "mengamati". Panjul harus mengamati keadaan sekitar, tentunya. Tapi seharusnya Panjul tidak hanya mengamati keadaan sekitar. Banyak hal yang harus diamati dan makna "mengamati" tidaklah sesempit yang kita bayangkan.

Panjul harus mengamati sejauh apa kemampuan tubuhnya dapat bertahan dari kondisi tersebut. Juga terlebih dahulu Panjul harus mengamati harimau sebesar gajah tersebut, apakah ia membahayakan dirinya atau tidak? Singkatnya, ada banyak proses kerja otak yang terjadi. Dan dari sekian banyak proses kerja otak tersebut, nampak bahwa Panjul sedang mencontek sesuatu. Apa yang Panjul contek memangnya? Panjul mencontek ide-ide yang disodorkan oleh "hal" apapun dimuka bumi ini. Seperti saat Panjul "mengamati" wujud harimau sebesar gajah tersebut, maka sejatinya itu adalah proses mencontek yang hakiki. Sederhana saja memang alasannya, mari kita berandai-andai: Andaikan Panjul menutup matanya, adakkah dia "tahu" seperti apa wujud harimau tersebut?

Kita bisa menjawab "Panjul tidak tahu" atau "Panjul tahu". Untuk pilihan pertama, sangat lumrah kita temui. Namun, pilihan kedua cukup menarik untuk kita kaji bersama. "Tentu saja Panjul tahu". Akan ada banyak cara dari kita untuk menjelaskannya, bagaimana seseorang belum pernah melihat "benda" yang belum pernah dilihatnya sekalipun tiba-tiba saja ia bisa mengetahuinya. Bahkan ditambahkan embel-embel "mengetahui dengan pasti"! Kita biasa menganggap hal itu sebagai suatu bentuk "kegilaan" atau "tindakan yang tidak ilmiah". Suatu teori dirumuskan tanpa pernah dilakukan observasi ilmiah sebelumnya. Sayangnya dan sebenarnya, tindakkan yang demikian tidaklah mengantarkan pada pengetahuan sejati. Kebenaran sejati. Jawaban "Panjul tahu" mengantarkan pada pengetahuan sejati. Mari kita runtut metode-metodenya. Pertama, Ia bisa menggunakan imajinasinya dan membayangkan wujud harimau tersebut. Namun tentu saja itu berlawanan dengan "kenyataan" yang ada. Sebenarnya, ketika Panjul sendiri sedang menggunakan imajinasinya untuk membayangkan wujud harimau, tentu ia harus setidak-tidaknya memiliki informasi dasar mengenai harimau. Jika ia tidak mengetahui apapun tentang harimau, tentu kiranya ia harus mengetahui informasi dasar mengenai makhluk hidup. Kalau kiranya Panjul tidak mengetahui makhluk hidup apapun, maka ia akan membayangkan dirinya sendiri. Dan terakhir, apabila Panjul juga tidak mengetahui dirinya sendiri, maka pada akhirnya Panjul sampai pada tahap pengetahuan sejati. Seperti apa yang dikatakan oleh Socrates:

"Pengetahuan sejati adalah saat kita tidak tahu apa-apa"

Sudah seribu tahun yang lalu Socrates menemukan jawaban atas pertanyaan "Darimanakah ide berasal?". Dengan kalimat Socrates yang terkenal diatas, hal itu secara gamblang menjawab pertanyaan "Darimanakah ide berasal?". Ide berasal dari proses meniru, mencontek, menjiplak, dan menyalin. Yang manusia ketahui sebenarnya adalah ia tidak tahu apa-apa. Tidak ada sesuatu yang murni dari otak manusia. Manusia membutuhkan "materi" untuk hidup dan khususnya, untuk berpikir, menghasilkan produk intelektual. Bahkan dengan memiliki tubuh, hal itu sudah menunjukkan bahwa manusia perlu "materi" untuk hidup. Manusia tidak bisa eksis di dunia ini jikalau ia hanya berbentuk roh saja.

Dalam kaidah-kaidah dasar ilmu pengetahuan saja sudah akrab kita dengar bahwa sebelum merumuskan teori maka harus ada penelitian ilmiah, observasi ilmiah, ataupun melihat fakta empiris. Kita tidak mengetahui, bahwa tindakan yang demikian sama saja dengan dengan seorang siswa sekolah yang sedang melihat kertas jawaban temannya, kemudian dicontohnya jawaban temannya itu kedalam buku. Banyak dari kita melihat hal itu sebagai suatu hal yang "menjijikkan" tapi kita tidak merenungkan secara mendalam bahwa hal yang demikian sama saja dengan melakukan observasi.

"Apa memang benar ataukah ini hanyalah sekedar mencari-cari analogi saja?"

Mari kita runtutkan. Pertama-tama, ada seekor kucing yang bisa bertelur. Seorang peneliti yang mendengar kabar ini kemudian beranjak dari kasur emasnya dan segera melihat kucing beserta telurnya. Ditelitinya kucing dan telurnya dalam laboratorium, dan dari situ sang peneliti merumuskan suatu teori: "Ada Kucing yang bisa bertelur. Ini adalah spesies baru". Selanjutnya, kita beralih pada suatu sekolah yang rindang dan pada saat itu sedang ada ujian. Seorang anak bernama Raimin dikenal sebagai anak yang cerdas, bahkan jenius. Tentu karena ia cerdas dan jenius, menjawab soal ujian tidaklah susah. Seorang anak yang bodoh bernama Panjul mendengar hal ini kemudian beranjak dari kursinya saat ujian dan bergegas untuk mencontek jawaban milik Raimin. Dari situ, pada akhirnya Panjul bisa menjawab soal ujian dengan baik.

Apabila Panjul tidak melihat jawaban Raimin, tentu Panjul tidak akan mampu mengerjakan soal-soal ujian. Juga apabila sang peneliti tidak melihat kucing tersebut, tentu sang peneliti tidak akan mampu membuat rumusan teori baru dan dari rumusan teori menjadi dasar khazanah pengetahuan baru bagi dunia perkucingan. Adakkah kedua hal tersebut sama? Bisa jadi iya dan bisa jadi tidak. Tetapi kita tidak akan pernah bisa menerka apakah kucing tersebut ikhlas untuk dijadikan sebagai objek observasi sebagaimana Raimin yang ikhlas jawabannya dicontek oleh Panjul. Ataukah saat Gallileo Gallilei melakukan observasi dalam melihat benda-benda langit untuk meremusukan teori Heliosentris, adakkah benda-benda langit itu ikhlas?

Harus diakui bahwa hal ini masih menjadi perdebatan yang amat sengit. Apakkah manusia benar-benar secara murni merumuskan ide dari otaknya ataukkah hanya dari proses A-T-M (Amati-Tiru-Modifikasi)? Yang pasti untuk umat beragama—terkhusus islam—, agaknya perlu diketahui bersama bahwa segala sesuatu itu adalah milik Allah. "Segala sesuatu" yang berarti juga termasuk pikiran manusia dan segala sesuatu yang tercipta dari pikiran manusia itu, juga milik Allah. Akan menjadi aneh kiranya apabila manusia tersebut "memonopoli" sesuatu yang bukan miliknya, apalagi milik Sang Pencipta mereka. 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.