Header Ads

30 September 1626


Sumber Gambar: Wikimedia

Dinasti Qing sebagai penguasa monarki paling terakhir di China punya cerita yang beragam dalam dua setengah abad masannya diatas tampuk kekaisaran China Raya. Keberagaman cerita dari Qing mulai diawali dari Nurhaci sang kepala suku Jurchen Jiazhou yang bertekad membalaskan kematian ayahnya, Taksi, serta  kakeknya, Giocangga. Untuk membalaskan dendam Nurhaci harus menghadapi Dinasti Ming yang mendukung Nihakawailan, sosok pembunuh ayah dan kakek Nurhaci. Dimulailah petualangan panjang sehingga bisa dikatakan secara tegas bahwa Nurhaci menjadi tonggak awal bangkitnya bangsa Manchu yang dari tahun 1646 menasbihkan diri menjadi penguasa seluruh China hingga Sun Yat-Sen mengakhirinya melalui Revousi Xinhai pada tahun 1911. Ceritera kronik sejarah Dinasti Qing menjadi menarik karena suatu hal: Nurhaci memulai idenya untuk mendirikan kekuasaan agung karena dendam.

Dendam sejak zaman azali sudah sangat akrab dengan manusia. Sebijaksana apapun manusia, kita tidak memungkirinya bahwa dendam bisa saja dengan mudah bersandar di bahu manusia bijak itu. Sederhana saja memang sebenarnya. Selama masih menjadi makhluk yang beridentitaskan sebagai manusia, maka disitu dendam tidak akan pernah berhenti. Itu memang jadi suatu anugerah bahwa manusia adalah pemeran utama dalam lingkaran setan kebencian yang sudah ada di dunia ini sejak lama. Lingkaran setan itu sering dianggap bencana yang tidak termasuk dalam 'kedamaian' atau 'kearifan'. Bahwa hal yang demikian adalah perilaku barbar.

Berbicara mengenai barbar, orang China  atau orang Han untuk lebih khususnya, menganggap bahwa bangsa selain China adalah barbar. Mungkin itu menjadi menimbulkan spekulasi, bahwa Dinasti Ming yang ada sebelum Dinasti Qing enggan menaklukkan negeri Joseon di Korea karena menganggap mereka barbar. Ming memilih memeras Joseon dengan meminta upeti. Agaknya, suatu kenajisan agung menginjakkan kaki di negeri barbar. Demikian mungkin penafsiran bebas dari Sinosentrisme, suatu pandangan yang menganggap bahwa China adalah pusat dunia dan langit memandatkan seorang dari China untuk menjadi pemimpin. Nurhaci sendiri berasal dari Manchu. Sangatlah jelas dimata orang China, Nurhaci adalah seorang "barbar yang ingin naik tingkat menjadi seorang manusia beradab" lalu pelbagai cacian dan usaha untuk menunjukkan ketinggian kasta Han diatas Nurhaci bahkan bangsa Manchu secara keseluruhan sering dilakukan. Berkali-kali ketika perang, Dinasti Ming yang menghadapi Nurhaci dalam surat-menyurat selalu memanggilnya dengan "budak"

Terjadi sebuah penghinaan, pelemahan eksistensi diri, penghancuran citra dan pembunuhan karakter. Manusia mana yang sanggup menerima itu semua hanya dengan suatu kesabaran? Kesabaran akan jadi tidak ada nilainya ketika ada sosok "Tuhan-tuhan palsu" yang menasbihkan dirinya sebagai penguasa dunia. Disitu, "Tuhan palsu" itu menginjak-injak "ciptaan-ciptaan" disekitarnya. "Sinosentrisme" menjadikan bangsa Han saat itu —dalam hal ini Dinasti Ming— sebagai "Tuhan palsu" yang menguasai dunia. Semua bangsa manapun selain orang Han adalah barbar dan hanya orang Han yang beradab. Itulah yang dirasa oleh Nurhaci dan menjadi bibit dendam yang tumbuh subur dihatinya.  Kali ini haruslah disetujui bahwa dendam Nurhaci pada orang-orang Han yang dia anggap terkutuk itu bukanlah tindakan barbarik biasa yang selalu dialamatkan kepadanya. Dendam yang Nurhaci miliki justru adalah buah cinta yang lama dinanti oleh Dinasti Ming. Nurhaci sebagai ibu yang mengandung buah cinta itu jelasnya berjasa dalam menentukan kehidupan China hingga dua abad kedepan. Justru Li Zicheng dengan Dinasti Shunnya yang pada akhirnya memaksa kaisar Chongzen bunuh diri adalah "anak haram" yang terkutuk dan patut dilenyapkan.

Nurhaci menjadi alegori sederhana bagaimana mereka yang dipandang dengan memakai sebelah otak berangkat dari duduknya dan mengangkat senjata. Mereka bergerak dan menunjukkan eksistensinya di muka bumi. "Kesamaan derajat" yang mungkin tidak pernah diagung-agungkan dalam Dinasti Ming atau bahkan menjadi teror luar biasa bagi istana Ming. Ini juga yang mendasari saat berkuasa, Nurhaci tidak sedikitpun membeda-bedakan anggotanya berdasar sukunya. Disini tercipta suatu Identitas persatuan. Jikalau Nurhaci melakukan polarisasi dalam pasukannya, bisa jadi sejarah akan berubah dan Dinasti Qing tidak akan mungkin tercipta. Persatuan menjadi kunci kuat menumbangkan suatu sistem diskriminatif dan tidak mungkin sistem diskriminatif dihancurkan oleh cara yang diskriminatif pula! Jelas bahwa dunia pernah melahikan Nurhaci sebagai simbol bagi mereka yang selalu diremehkan, diludahi, diasingkan, dan didiskriminasi. Nurhaci sayangnya tidak memilih kemunafikan untuk menghindari pengasingan. Sebagai seorang yang digurat sebagai pemimpin hakiki bagi mereka yang terpinggirkan, Nurhaci tahu apa yang harus dilakukan: Lawan!

30 September 1626, Nurhaci menghembuskan nafas terakhirnya akibat pertempuran melawan pasukan  Yuan Chonghuan dari Dinasti Ming. Meskipun Nurhaci sudah meninggal tetapi Nurhaci (Seharusnya) akan selalu hidup dihati mereka yang terpinggirkan, diasingkan, dan dinajiskan.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.