2017 dan Hilangnya Identitas Dunia Maya
Sumber Gambar: divergentoptions.org
Tanggal 31 Desember 2017 menjadi tanggal pamungkas yang akan menutup perjalanan tahun 2017. Seperti biasa dan selayaknya tahun-tahun yang sudah lewat, tahun 2017 memberikan nukilan pemberitahuan penting bagi perjalanan sejarah dan kehidupan berbangsa negeri Indonesia ini. Pergantian tahun yang ada sudah seharusnya menjadi indikator perkembangan negeri Indonesia untuk mencapai taraf kehidupan yang lebih baik bagi seluruh warganya. Perkembangan itu menjadi suatu keharusan yang dijalani setiap tahunnya. Seiring dengan itu, perkembangan akan selalu membawa perubahan. Perubahan yang merombak total seluruh aspek kehidupan dengan satu tujuan: Menyajikan suatu kemakmuran.
Wajah dunia maya Indonesia sepertinya bukan termasuk pengecualian dalam perubahan yang ada. Tahun demi tahun menorehkan cerita seiring dengan berkembangnya teknologi internet yang menghasilkan dunia maya. Sesuai dengan namanya, dunia maya merupakan bias kehidupan dari realita yang ada. Dunia maya seperti sebuah dunia baru hasil daya cipta manusia yang —sekarang ini— ditafsirkan sebagai suatu tempat pelarian dari kerasnya realita yang ada. Agaknya dunia maya sudah kehilangan identitas kemayaannya dan beralih menjadi tempat pelarian. Padahal semua tahu bahwa antara 'maya' dan 'pelarian' merupakan dua hal yang beda. Tapi awam banyak memadankan mereka menjadi satu.
Apakah dunia maya sudah benar-benar tergerus identitas kemayaannya? Pertanyaan tersebut bisa jadi tidak akan bisa dijawab untuk beberapa waktu kedepan. Setidak-tidaknya, sampai umat manusia bisa melihat adanya dunia sintesa hasil kreasi teknologi yang memadukan "dunia nyata" dan "dunia nyata". Sampai dunia itu datang, manusia hanya bisa menunggu. Meskipun menunggu bukanlah solusi untuk menghindari dunia maya yang sudah tergerus identitas kemayaannya. Semakin lama semakin menunjukkan persamaan mutlak dengan dunia .nyata. Dunia nyata yang fana tempat tinggal jutaan umat manusia. Terkadang silih berganti saling membunuh untuk membangun peradaban yang katanya, lebih baik dari hari ini dan lebih bagus dari hari esok.
Identitas awal dari dunia maya sendiri cukup menarik untuk diselidik jauh kebelakang. Frasa "dunia maya" sendiri merupakan terjemahan Cyberspace dari bahasa Inggris. Cyberspace sendiri merupakan pengembangan dari kata Cyber. Kata Cyber merupakan turunan dari kata Cybernetics yang berasal dari kata κυβερνητική(cybernēticḗ) dalam bahasa Yunani yang bermakna "untuk memerintah" atau "untuk mengarahkan". Dapat dimaknai, bahwa kata Cyber yang kemudian diserap dalam bahasa Indonesia menjadi siber dapat dipadankan dengan kata "maya" atau tidak nyata. Istilah Cyber tidak dapat lepas dari dunia teknologi.
Istilah Cyber —Cybernetics— bermula dari seorang matematikawan asal Amerika Serikat bernama Nobert Wiener. Cybernetics merupakan formula untuk mengeksplorasi stuktur suatu sistem yang ada, apapun itu sistemnya. Lebih lanjut Wiener menjelaskan, bahwa Cybernetics itu adalah "Studi ilmiah untuk mengontrol dan berkomunikasi dengan mesin dan makhluk hidup," dan lambat laun, istilah Cybernetics bergeser menjadi, "Kontrol terhadap suatu sistem menggunakan teknologi"
Maka dari itu, karena dunia maya merupakan terjemahan dari Cyberspace dan Cyberspace sendiri merupakan turunan dari Cybernetics, bisa disimpulkan bahwa dunia maya adalah dunia yang penuh dengan teknologi. Teknologi ada untuk mempermudah kehidupan manusia, sesuai dengan maknanya, τέχνη(techne) yang berarti "seni, skill, atau kemampuan" dan -λογία(-logia) yang berarti "ilmu".
Di awal millenium kedua sesudah masehi ini, teknologi berkembang pesat dan mempengaruhi betul kehidupan manusia. Internet, khususnya teknologi world wide web atau w-w-w, menjadi kebutuhan pokok yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia sehari-hari. Dari internetlah lambat laun terciptalah sebuah "dunia baru" yang menjadi tempat alternatif manusia untuk lari dari segala stagnanitas hidup. Banyak hal-hal baru dan segar yang disajikan dalam internet. Hal-hal baru dalam internet memancing ketertarikan masyarakat luas sampai-sampai mereka rela untuk meninggalkan segala yang ada dalam dunia nyata. Banyak pro dan kontra tentunya mengiringi kehadiran internet dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi pandangan awam masyarakat Indonesia menganggap bahwa internet hanya sebagai "tempat bermain" yang tidak memiliki faedah sedikitpun. Meski banyak pandangan negatif mengenai internet bertebaran, namun waktu tak dapat dielakkan dan pelan-pelan kehadiran internet mulai mencuri hati masyarakat luas.
Bisa dilihat dari rentang tahun 2000 hingga tahun 2016 —selama 16 tahun— bahwa internet mengalami perubahan signifikan. Baik itu perubahan bentuk atau perubahan persepsi yang dipahami masyarakat. Sekitar rentang tahun 2000-2010, internet hanya bisa diakses oleh kalangan muda atau millenial saja. Pelan-pelan, mulai dari tahun 2010 hingga seterusnya, kalangan tua bahkan anak-anak sekalipun mampu mengakses internet. Internet yang pada awalnya merupakan tempat bagi anak-anak muda untuk mencari "identitas diri" kini mulai "terkontaminasi" oleh kehadiran kalangan-kalangan lintas umur lainnya.
Pertanyaan besar muncul disini. Apakah internet dan dunia maya yang tercipta karena adanya internet itu merupakan dunia tempat pelarian anak-anak muda? Ataukah sesuai identitas awalnya, internet merupakan dunia yang penuh dengan teknologi? Dunia intelektual? Warganet—sebutan untuk seseorang yang ada dalam dunia maya— merupakan kunci untuk menjawabnya. Warganet memang berbeda sama sekali dengan masyarakat biasa yang nyata. Adanya anonimitas atau identitas diri yang disembunyikan dapat membuat warganet lebih bebas berekspresi dibanding masyarakat nyata. Akibatnya, segala ekspresi diri yang terpendam dapat dilepas dengan bebas tanpa adanya filter terlebih dahulu. Sebenarnya, filter atau menyaring ekspresi diri yang layak atau tidak layak tidaklah diperlukan. Anonimitas menjadi penyebab utama sehingga warganet dapat leluasa berekspresi, berpendapat, dan paling mengerikan dapat bertindak semaunya serta semena-mena.
Bertindak semaunya dan semena-mena akhir-akhir ini menjadi penyakit paling menjangkiti warganet Indonesia. Kata-kata menjadi senjata paling mutakhir untuk memecah belah kerukunan dalam tatanan kehidupan masyarakat. Provokasi menjadi senjata paling ampuh dibanding bom nuklir. Kurangnya kontrol emosi menyebabkan terciptanya dua hal: Provokator dan yang diprovokasi. Sebenarnya ini merupakan naluri manusia, ketika dikekang akan semaksimal mungkin berusaha untuk bebas. Memangnya apa yang mengekang manusia?
Tidak sedikit dari kebanyakan orang yang merasa "terkekang" untuk melakukan perbuatan baik. Hal yang baik tidak semata-mata dilakukan karena kesadaran diri, melainkan karena paksaan atau iming-iming terhadap sesuatu. Apabila manusia menyadari bahwa iming-iming tersebut hanyalah bualan belaka, maka niat untuk berbuat baik itu hilang. Ditambah lagi adanya dorongan rasa ingin tahu untuk melakukan perbuatan negatif yang tidak sesuai etika dan norma yang ada. Kekangan dan rasa ingin tahu berperan besar dalam carut-marutnya kehidupan dunia maya sekarang ini. Anonimitas dalam dunia maya mendukung penuh rasa ingin tahu manusia untuk keluar dari kekangan dan melampiaskan hasrat barbariknya.
Tidak heran, banyak bertebaran konten-konten negatif —selain pornografi— di dunia maya. Ujaran kebencian, adu domba, ataupun fitnah menjadi tren selama tahun 2017 dalam kehidupan dunia maya Indonesia. Adanya polarisasi warganet sehingga menciptakan semacam "dua kubu" membuat kehidupan dunia maya tidak lagi sarat akan nilai-nilai filosofis dari teknologi. Dunia maya Indonesia berubah menjadi ladang kebencian —selain menjadi ladang membuang-buang waktu. Hampir sama seperti kehidupan dunia nyata, dengan segala dinamika peliknya yang penuh intrik.
Dunia maya yang identitasnya adalah tempat penuh teknologi berubah menjadi dunia pelarian bagi masyarakat. Segala hal yang tidak tersampaikan di dunia nyata ditampung dalam dunia nyata. Nobert Wiener mungkin sudah memperikirakan bahwa Cybernetics akan menjelma menjadi sebuah tempat pelarian bagi para kriminal yang terasing dalam dunia nyata.
Tahun 2018 akan menggantikan tahun 2017. Apakah dunia maya semakin hari akan semakin menjadi penjara raksasa bagi para pelarian ataukah mampu kembali pada identitas awalnya? Pada akhirnya, waktu yang akan menjawab. Denting pergantian tahun akan memulai momennya.


Tidak ada komentar