Ilmu Pengetahuan dan Kepribadiannya
Sumber gambar: Arahjuang.com
Banyak orang yang mengagungkan ilmu yang didapat dari hasil belajar otodidak dibanding hasil belajar dari suatu lembaga (pendidikan). Entah lembaga resmi pemerintah atau non-pemerintah. Memang tidak salah, sebab semua ilmu pengetahuan itu didapat dari hasil penelitian diri sendiri. Semua pengetahuan didapat dari usaha otak secara mandiri untuk mendapat pendidikan. Lembaga yang ada hanya sebagai wadah untuk kita dapat menghidupkan mesin intelektual di otak kita Namun, selain memiliki ilmu yang amat tinggi, kita harus punya kepribadian. Sebab, ilmu pengetahuan itu punya kepribadian. Maksudnya apa? Jelas bahwa orang yang memang benar-benar 'berilmu' harus mencerminkan dirinya itu dari segala sisi benar-benar 'berilmu'.
Akan aneh rasanya, melihat seseorang yang amat sangat jago dalam dunia Pemograman, namun wawasannya tentang pemograman itu sedikit. Bagaimana ia 'mengenal' kepribadian dan jati diri dari pemograman itu sendiri itu sempit. Tidak peduli ia amat sangat menguasai satu juta jalan algoritma, paham jutaan class, properti, function, kalau ia sendiri tak paham dan 'mengenal' lebih dalam kepribadian dari algoritma, class, properti, ataupun function itu sendiri maka bisa dipastikan tak ada mahakarya keluar dari orang itu. Logikanya, seorang pria mencintai seorang wanita. Namun, sang pria tidak pernah mengetahui dan paham apalagi memperlakukan sang wanita sebagaimana mestinya kala ia memang benar-benar memahami wanita itu. Alih-alih memahami, sang pria justru bertindak layaknya tak punya nurani. Memang wanita itu sejahtera, namun jelas wanita itu diperlakukan seperti robot. Mati, tak ada gejolak nurani.
Begitu juga dengan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan itu punya kepribadian. Maka dari itu, orang yang memang benar-benar 'berilmu' itu, sudah pasti memiliki kepribadian yang agung. Berkepribadian disini bukan dimaknai sebagai 'berakhlak', sebab 'akhlak' itu sangat subjektif. Berkepribadian itu, adalah kala seseorang itu punya 'sesuatu' yang menjadi mesinnya untuk bertindak. Untuk itu , ada kata kreatif dan inovatif. Kreatif adalah mereka menciptakan sesuatu dari hasil pemanfaatan sesuatu yang telah ada sebelumnya.
Sementara itu, Inovatif adalah mereka yang menciptakan sesuatu dari hal yang belum pernah ada sebelumnya. Itupun, Inovatif masih bisa dibagi lagi. Ada yang amat berperan dalam hidup manusia, ada yang memberi kehancuran, malah ada yang hanya berguna bagi diri sang pencipta itu sendiri.
Tapi jelas, bahwa Manusia itu menjadi makhluk yang kastanya diatas hewan, tumbuhan, protozoa, jamur, ataupun amoeba, karena mereka punya kepribadian. Sama halnya dengan manusia, ilmu pengetahuan itu punya kepribadian. Manusia dan Ilmu pengetahuan harus saling mengenal, memahami, baru terjadi proses 'menelan' ilmu kedalam otak manusia. Pun kalau sudah diproses, maka harus diaplikasikan dalam kehidupan. Kalau cuma dipendam dalam kepala, hanya didongengkan sebagai retorika, maka sungguh itu adalah selemah-lemahnya manusia.
Jelasnya, memahami ilmu pengetahuan tanpa tahu kepribadiannya, maka bisa dikatakan belum benar-benar mencerna ilmu pengetahuan itu sendiri. Maka itu, kita sering melihat 2 anggapan. Pertama, ada orang yang wawasannya luas, jago retorika, punya ribuan ide, tapi tak pernah memberikan dampak bagi kehidupan nyata. Kedua, ada orang yang praktiknya jago, kemampuan bertindaknya cepat, punya ribuan solusi, selalu bekerja , giat, namun tidak memiliki visi yang jelas dan berjangka panjang. Selalu terjebak dalam kotak yang sama. Tindakannya monoton. Dua hal itu jelas terjadi karena seorang mencerna ilmu tanpa tahu kepribadiannya. Mencintai seorang wanita tanpa mau tahu bagaimana sikapnya, sifatnya, ataupun kebiasaannya.
Di era teknologi ini, maka harus bersiap menghadapi golongan kedua. Teknologi sekarang ini, khususnya internet telah banyak membuat banyak orang mendadak menjadi 'berilmu-pengetahuan'. Harus diingat, ketika membaca artikel 'Fisika Kuantum' di internet, hal itu tidak serta merta menjadikan manusia itu paham tentang Fisika Kuantum. Apakah sudah melalui proses observasi? mengenal kepribadian dari fisika kuantum itu sendiri? Ada sebuah proses. Entah panjang atau pendek, singkatnya proses tetap proses. Itu pasti ada.
Makanya, jangan kaget di era teknologi sekarang ini, ada anak kecil tapi sudah amat jago pemograman. Namun jangan lantas memberi label bahwa anak kecil itu dewa, keajaiban, bilamana sang anak kecil itu cuma menyerap pemograman itu tanpa mengetahui kepribadiannya.
Akhirnya, ketemulah muara. Bahwa belajar otodidak itu tidak salah. Belajar di sebuah lembaga (pendidikan) itu tidak salah. Asalkan kita dalam belajar, memahami betul ilmu itu beserta kepribadiannya. Janganlah memandang remeh seseorang karena ia tidak punya gelar akademik. Baik S3, S2, S1, D4, D3, D2, D1, dsb. Pun sebaliknya, jangan hanya karena 24 jam bergulat dengan ilmu, maka lantas mengobarkan supermasi terhadap orang-orang yang punya gelar akademik. Dengan mengobarkan hal itu, maka hal itu menggugurkan label diri sebagai orang berilmu. Mana ada orang berilmu macam itu.
Janganlah melabelli diri dengan 'Saya belajar otodidak dan saya lebih jago dari sarjana' ataupun 'Saya sarjana maka semua yang tidak sarjana bodoh'. Ilmu pengetahuan itu punya kepribadian agung. Karena, dia bagian dari Sunatullah yang diciptakan oleh pencipta yang maha agung.
Pun kalau ada yang tidak percaya keberadaan sang pencipta, setidak-tidaknya, kepribadian itu membedakan manusia dan hewan bukan?


Tidak ada komentar