Header Ads

Manusia Bersayap, Logika, dan Mistika

 Sumber gambar: Photobucket

Sebenarnya antara rasionalisme serta rasa simpati selalu saja berantem bertubi-tubi merusak peradaban. Kita bisa saja bersimpati pada seorang yang menginginkan sayap pada punggung manusia agar terbang tinggi dilangit. Kemudian ia habiskan hidupnya untuk melakukan riset ilmiah, doa, dan usaha untuk mewujudkan suatu teknologi, penemuan, kepercayaan, keyakinan bahwasanya bisa tumbuh sayap di punggung manusia untuk terbang.

Untuk saat ini memang hal itu lelucon. Sama ketika tahun 1653 ketika orang-orang menertawakan bahwa ada 'hal lain' dibalik setetes air. Kini diketahui 'hal' lain itu adalah H2O. Dengan analogi sederhana itu, bisa dipastikan bahwa ide 'Sayap pada punggung manusia' bukanlah suatu mistika. Sekarang memang terdengar macam itu. Tapi tempo memainkan peranan penting: Dia mengatur segalanya. Perkataan bijak yang terancam arkais macam "Semua akan indah pada waktunya" mungkin amatlah cocok.

Janganlah mendahului tempo! Itulah ia. Ada hal lain sebelum tempo yang harus dipikirkan, yaitu teknik, cara, pola, singkanya algoritma bagaimana mewujudkan adanya sepasang sayap pada punggung manusia. Secara rasional memang harus seperti itu. Bahwa untuk mewujudkan suatu ide agar menjadi nyata, menjadi suatu materi, eksistensi yang dapat dilihat dengan mata atau dirasakan dengan alat indera tentu membutuhkan tahapan. Kalau sudah dengan metode "Jadilah maka terjadilah" maka itu bukan sudah manusia lagi ia. Itu Allah. Dan memang Allah itu ada di dalam setiap kejadian hidup manusia. Allah adalah alasan dibalik terjadinya segala sesuatu. Hanya dengan restuNya segala cara, pola, tahapan, langkah, mekanisme, ataupun teknik dapat terwujud.

Allah adalah Dzat yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Itu sudah terbukti kala Allah menampakkan rasa Maha PengasihNya dan PenyayangNya pada manusia bongak serta tercangak-cangak sembari mewartakan dirinya bisa "Kun Fayakun" dengan restu Allah. Singkatnya: Ia membenarnya adanya kejadian dimana Allah membantunya mewujudkan suatu kejadian dengan cara "Kun Fayakun" tanpa ada kejelasan atau rasionalisme yang jelas.Untuk penyebutan, itu bisa saja dikatakan sebagai "Penyalahgunaan"


Fakta menyatakan bahwa ada makhluk-makhluk yang mencoba dengan miris bersembunyi dibalik keMahaTahuan Allah atas segala sesuatu. Kesadaran itu ada. Bahwa makhluk itu sadar Allah itu Maha Tahu. Sadar bahwa tanpa kuasa Allah dan daya "Kun Fayakun" Allah yang Maha Akbar, segala sesuatu tak dapat terjadi tanpa Kuasa Allah. Maka dengan singkat, berkatalah "ini semua karena Allah, hanya itulah cara satu-satunya"


Pertanyaannya, siapa disini yang Allah? Manusia itukah? Bahwa "Kun Fayakun" hanyalah Allah seorang yang punya, itu yang agaknya harus dipahami. Kun Fayakun adalah kekhususan yang dimiliki Allah sebagai Dzat yang Maha Kuasa. Tiada satupun yang mampu memilikinya. Kalau ada, maka ada dua kemungkinan:

   1) Allah berarti tidaklah Maha Kuasa
   2) Klaim bahwa ada "Kemampuan untuk menciptakan Kun Fayakun selain Allah" adalah racauan orang gila belaka.

Sebagai umat beragama, piihan dua jelas harus dipilih. Bahwa kemampuan untuk melakukan "Kun Fayakun" hanyalah milik Allah. Jika ada makhluk lain yang mengklaim memilikinya, maka ia sedang mencoba gelut denganNya! Sebenarnya bisa saja Allah menurunkan ilmu itu pada Makhluknya. Allah maha Kuasa atas segala sesuatu. Namun perlu diingat: Ilmu itu tetap milik Allah. Hanya ia yang dapat memilikinya. Itu bisa diterjemahkan hal itu sebagai: Keajaiban, kesaktian, mukjizat, dan pelbagai peristiwa yang tak dijangkau akal sehat. Maka ucapan "ini semua karena Allah, hanya itulah cara satu-satunya" sangatlah relevan untuk membuktikan keMahaKuasaan Allah.

Manusia bisa lebih iblis dari iblis itu sendiri. Kala iblis menentang Nabi Adam secara terbuka karena ia tahu bahwa Allah pastilah akan tahu apabila ia memendamnya dalam hati, maka manusia dipastikan akan menyembunyikannya dengan anggapan "Tiada satupun tahu yang tahu kok apa yang ku sembunyikan" maka itu sudah sama saja dengan surat terbuka untuk duel satu lawan satu dengan Allah. Itulah manusia yang juga pastinya akan menggunakan "ini semua karena Allah, hanya itulah cara satu-satunya" sebagai teknik sakti untuk memamerkan kesombongan yang hakiki dengan anggapan "Hanyalah aku yang tahu ini semua, tiada satupun tahu" dengan suatu kepastian bahwa frasa "Tiada satupun tahu" itu termasuk Allah!

Itulah yang bisa dikatakan sebagai "Manusia bongak yang sedang menjadi Allah, ingin menjadi Allah" dimana berani melawan Sunatullah. Berani bermimpi membuat sayap di punggungnya dengan cara membawa-bawa keMahaKuasaan Allah sebagai sarana cuci otak agar manusia lainnya percaya dengan ilusi yang ia hadirkan. Agaknya itu melawan Pluralitas kebenaran: Bahwa tiada satupun manusia yang tahu apa itu kebenaran sejati. Kebenaran bisa saja dianggap sebagai kepingan-kepingan kaca, lalu kepingan kaca yang sebiji diambil —dari banyaknya pecahan itu— dianggap sebagai satu-satunya kebenaran.  Rasionalisme selamanya tak mampu menjelaskan segala Sunatullah yang sudah ditetapkan. Bahwa: Menyamakan algoritma suatu kejadian, logika, silogisme, sebagai padanan 'Sunatullah' adalah kebodohan yang nyata.

Dunia sudah banyak —bahkan berjalan— dengan pelbagai hal-hal diluar nalar manusia. Bahkan sejatinya bahwa 'Logika' itu lahir dari suatu hal 'Anomali' atau 'Mistika'. Muncullah pertanyaan: Logika anak Kandung Mistika? Bisa saja hal itu dibantah. Bisa saja pernyataan seorang Amerika tahun 1866 yang berkata "Gatling Gun adalah senjata terhebat sepanjang masa eksistensi manusia. Tiada senjata lain yang dapat menempati itu. Bahwa lebih tegas lagi aku tegaskan: Tidak ada senjata apapun melebih kesaktian Gatling Gun. Apalagi ada benda yang mampu terbang diudara dan mampu meledak dengan besar. Mampu memusnahkan tubuh manusia bagai abu" adalah pernyataan yang benar. Bisa saja ucapan korban selamat bom atom Nagasaki berkata "Bom yang dijatuhkan Amerika adalah bom paling mengerikan dimuka bumi, paling mengerikan sepanjang masa" adalah suatu bualan. Bisa saja dikatakan bahwa Gatling Gun lebih hebat dari Bom Atom! Yang lebih menggelegar lagi: Tempo yang mengendalikan segala sesuatu, waktu, momentum, hanyalah bualan belaka!

Dengan begitu sebenarnya rasionalisme dan rasa simpati itu tidak berantem. Bahwa dua hal itu tak saling bertikai —juga berhubungan. Seorang yang bercita-cita menciptakan sayap pada punggungnya tak boleh dianggap sebagai mistika! Itu adalah ide besar. Terobosan besar. Adapun caranya adalah: Kun Fayakun. Terjadilah ia, dengan izin Allah, tentunya. 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.