Header Ads

Stalemate Klopp!!

 
Sumber: Dailymail
Stalemate dalam catur berarti keadaan dimana sudah tak ada lagi bidak yang mampu melakukan gerakan. Dengan kata lain, sudah mentok. Hilang sudah harapan untuk memainkan permainan catur yang dicinta. Stalemate juga bisa kita maknakan sebagai kebuntuan, tak ada jalan lain yang bisa ditempuh. Bukan INGIN ditempuh. Mengapa begitu? Sebab, jikalau jalan yang ingin ditempuh, maka batas ketersediaannya adalah berdasarkan kemauan kita. Jadi kalau kemauan kita tinggi, maka jalan akan terbuka lebar. Berbeda dengan jalan yang bisa ditempuh.

Ia sangat objektif. Ia tak mau digugat kemauan atau susasana hati manusia. Sekali tidak bisa, selamanya tidak bisa.

Perkenalkan: Fuhrer Klopp. Fuhrer Liverpool


Nun tempat di Inggris sana, di barat laut, tepatnya di Liverpool, ada seorang mini-fuhrer. Dia adalah Fuhrer dari sebuah klub sepakbola di Liverpool, yang juga bernama Liverpool. Tepatnya Liverpool F.C

Nama fuhrer itu Juergen Klopp.

Ia datang membawa pembaharuan yang membangkitan kaum revolusionir Liverpool. Menyatukan massa sayap kiri dan sayap kanan Liverpool yang mana di-era Brendan Rodgers, Fuhrer sebelumnya, melakukan kediktaktoran absurd yang pada akhirnya harus tumbang karena revolusi secara besar-besaran di kubu Liverpool. Fuhrer Klopp datang menggantikan Fuhrer absurd yang celaka itu.

Fuhrer baru itu dipuja, diagungkan, bahkan reichstag dibangun khusus untuk sang Fuhrer.

Lantas dengan segala harapan yang mengasap tinggi menembus kubah langit yang didengungkan para penganut prinsip bumi datar itu, apakah Klopp mampu memberikan sebuah perubahan yang selama ini menjadi khayalan indah nan akut bagi para pemuja Liverpool?

Gagalnya ide = Hilang harga diri


Perubahan dimulai dari ide. Kalau kagak berubah, berarti tidak ada perubahan. Tidak ada ide. Ada yang salah pada ide itu. Ide yang sejatinya digunakan untuk fondasi perubahan, nyatanya tak ada perubahan yang terjadi. Bukankah itu kegagalan total dai suatu ide? Bagi seorang yang mengagungkan gengsi dan harga diri diatas segalanya, gagalnya ide untuk diterapkan dalam dunia nyata adalah pukulan telak. Sama saja kehilangan harga diri.

Klopp adalah seorang manusia yang amat beruntung untuk ditasbihkan sebagai seorang sosok keras kepala. Ia kolot dengan idenya. Sepakbola menyerang! Kekeras-kepalaan Klopp itu lantas membuat kaum revolusioner yang tidur lelap dalam bayang-bayang keberhasilan revolusi, kini kembali bangkit mengangkat senjata dan menyerukan; PERUBAHAN!

Sudah gagal, tak mau berubah?

Hasil pada bulan Januari. Mengerikan.
   
Januari tahun 2017 adalah mendung yang amat pekat menutupi kacamata Klopp yang selalu was-was dari serangan para pemain Liverpool yang beringas. Kacamata itu trauma dan takut, melihat nasib sang kacamata pendahulunya yang hancur karena selebrasi beringas para pemain Liverpool bersama Klopp. Trauma dan ketakukan sang kacamata itu ditambah pula sama kehancuran yang terjadi pada Liverpool dibulan Januari 2017, Tak pernah menang dalam satu pertandingan!

Ada 9 laga yang dimainkan, dan hanya satu kemenangan yang diraih. dibulan itu juga, liverpool terhempas dari 2 kompetisi yang menjadi primadona liverpool tuk melepas dahaga akan gelar juara. 9 laga lho, hanya satu kemenangan yang diraih. Itupun dari tim dimensi lain. Perlu direnungkan, adakah seseorang di dunia ini yang mau menjadi pecundang? Tidak ada. Bahkan meski kalah, kalahnya seorang pemenang dan kalahnya seorang pecundang itu berbeda.

Seorang pecundang kalah dengan mencoba melawan musuhnya denga teknik yang sama. Tak ada inovasi, kreasi, dan determinasi. Sangat putih berbeda dengan pemenang, dimana sang pemenang menerapkan dan memadukan ketiga hal tersebut guna mengalahkan musuhnya, meski pada akhir judulnya, tetap saja kalah. Klopp dan Batu seperti saudara yang lama tak berjumpa. Batu tetap diam dari zaman neo-litik hingga ditemukan arkeolog. Begitupula ide Klopp yang tetap diam dari zaman sekarang hingga ditemukan oleh Kloppolog pada zaman mega-neo-ultima-litik nanti.

Dosa-dosa Klopp, yang membuat penulis berani menyamakannya dengan batu, adalah sebagai berikut:

1. Tidak memainkan striker murni,
2. Tetap melakukan malpraktek ilegal terhadap Lucas Leiva dan James Milner
3. Memaksakan Emre Can yang sudah kehilangan Libidio untuk menjadi gelandang (atau bahkan gelandang bertahan yang semestinya posisi alami doi!)
4. Selalu memakai formasi offensif 4-3-3 tanpa ada rencana cadangan
5. Selalu melakukan penguasaan bola berlebihan, alay, lebay, sehingga fokus hanya untuk menguasai bola bukan mencetak gol
6. Mempertahankan jimat kultus yang kegunaannya dipertanyakan. Jimat itu bernama 'John Achterberg', yang menjadi pelatih Kiper tim.

Stalemate?

Perbandingan 54 Pertandingan pertama antara Klopp dan Rogers. jelas rodgers lebih unggul dari Klopp 

Bulan Februari datang, menampar Liverpool yang terlihat seperti pria Culun berdasi. 1 kemenangan diraih, 1 hasil imbang, dan 2 kekalahan laknat.
Sepintas memang ada asa, tapi kenyataannya adalah asap hitam yang semakin pekat menanti di Liverpool.

Dua kekalahan terjadi dengan konyol bersanding dengan 1 kemenangan miris. 2 kekalahan terjadi dengan konyol sekonyol-konyongnya hingga penulis terpaksa enggan menulisnya disini, dengan alasan perdamaian.

Hasil pada bulan Februari. Sama saja dengan Januari.

Ide sepakbola menyerang yang berusaha diterapkan Klopp kini menemui ajalnya, eh, maksudnya jalan buntu. Harus memutar arah dan kembali meraih lintasan yang semestinya. Kalau tidak? ya Stalemate, tidak ada perubahan. Bulan januari, dan februari sudah menjadi bukti. Hanya 1 kemenangan diraih pada 2 bulan itu. Tak ada perubahan.Sekarang bulan Maret, dan diawal bulan Maret ini, nampaknya Liverpool sudah memakai 'Voucher' menangnya.

Selanjutnya? Saatnya menanti. Apakah tetap stalemate tanpa pergerakan ataukah mampu melakukan 'checkmate' alias skak dengan lawannya. Atau mungkin Klopp yang kena Skak, dengan dipecat?
  
Ampuni hamba, wahai fans Bill Shankly.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.