Header Ads

Yi Sun-Sin dan Mobile Legends




Sumber Gambar: Flickr

Abad ke-21 ditandai dengan semakin bervariasinya metode yang dipakai umat manusia untuk menghibur dirinya. Variasi yang dipakai tidak tanggung-tanggung, kadangkala—lebih tepatnya, sering—membuat kening mengernyit. Kernyitan kening bukan tanda marah, namun menonjolkan bentuk kekaguman terhadap zaman: Zaman modern yang semakin instan dan memberikan kemewahan dalam sekejap. Kemewahan batin tentunya, karena dinamika ekonomi dunia semakin kencang dan sangat mustahil orang-orang biasa dengan pemahaman ilmu ekonomi yang nihil bisa mendapat kemewahan materil secara singkat dan dalam tempo secepat-cepatnya.

Dalam tiga bulan pertama tahun 2018—terhitung dari Januari-Februari-Maret, sampai tulisan ini dipublikasikan—dan tahun 2017, sebagian besar dari tahun 2017 tepatnya, menjamurlah orang-orang yang menggunakan gawainya, smartphone atau perangkat cerdasnya dengan cara dimiringkan, mengambil posisi lanskap. Ada sesuatu yang dilakukan: Bermain! Dan bermain, tepatnya bermain game online adalah bentuk pembebasan jiwa terhadap segala dinamika hidup yang rumit—dan semua yang pernah berkecimpung di dunia game online tahu betapa pelik dinamika kehidupan disana.

Mobile Legends, begitulah orang banyak menyebut nama game online tersebut. Game besutan Shanghai Moonton Technology asal china ini dirilis pada 11 Juli 2016. Sekarang, sudah hampir dua tahun sejak dirilis, game online ini sudah diunduh oleh sekitar 50 juta pengguna, berdasarkan statistik Google Play. Lima puluh juta bukanlah angka yang sedikit, dan ingat: Lima puluh juta orang menggunakan produk dari  Shanghai Moonton Technology ini sebagai pelepas penat, penenang jiwa, dan perwujudan dari kekayaan batin.

Mobile Legends. Game yang sudah diunduh sekitar 50 juta orang lebih di dunia. Sumber gambar: Codashop.com

Tentunya ini adalah prestasi yang luar biasa dan sebagai bagian dari kemajuan zaman dan peradaban, akan banyak bertebaran segala pembelaan mengenai nilai-nilai positif dari memainkan permainan mobile legends tersebut. Mungkin akan ada yang mengatakan, "Bermain mobile legends dapat membuat diri abadi! Dikenang sepanjang masa dan tak lekang oleh waktu," dan lengkap dengan argumentasi-argumentasi ilmiah dengan ditempeli hasil-hasil penelitan secara empiris dan meyakinan. Tidak ada yang salah dan perlu diperdebatkan, toh penelitan tetap penelitan. Memberikan fakta secara meyakinkan dan akurat, tidak menipu.

Sebagaimana game, terlebih lagi game online pada umumnya, membuat orang keranjingan bermain dan melupakan segala-galanya yang ada di dunia menjadi keharusan, tak terkecuali bagi mobile legends yang juga mampu membuat orang-orang lupa terhadap segala hal di dunia dan fokusnya hanya mengarah pada satu hal: Bagaimana kelangsungan hidup di mobile legends bisa berlanjut bahagia. Banyak orang terpengaruh. Hal ini bukan isapan jempol belaka. Beberapa orang bahkan memberi nama untuk anaknya dengan menggunakan nama dari karakter hero yang ada di mobile legends. 

Dari berbagai hal-hal menarik yang disajikan oleh mobile legends, ada satu hal yang membuat pikiran mulai tenggelam begitu dalam terhadap suatu pembahasan. Sebagai game online yang masuk dalam kategori MOBA (Multiplayer Online Battle Arena), mobile legends mengharuskan para pemainnya bertarung dalam sebuah arena. Didalam arena tersebut ada tiga jalur (tiga jalur tersebut biasa disebut Top Lane, Mid Lane, dan Bottom Lane) yang sepanjang jalur tersebut diisi oleh tiga menara (atau biasa disebut dengan Turret) dan para pemain tersebut harus menghancurkan menara-menara tersebut agar bisa sampai di Base (Markas) dari tim lawan untuk bisa menghancurkan menara pusat yang ada disana. Para pemain akan menggunakan karakter-karakter tertentu yang memiliki kemampuan unik tersendiri dan biasa disebut dengan hero. Hero yang ada sangat banyak macamnya dan punya latar belakang yang berbeda. Ada yang diambil dari tokoh fiksi ataupun tokoh-tokoh yang benar-benar nyata. Salah satunya hero yang bernama Yi Sun-Sin.

Yi Sun-Sin ini bukan tokoh fiktif. Jika orang-orang tau siapa sebenarnya Yi Sun-Sin ini, pastilah mereka akan bergetar hatinya. Ini bukan sebuah pemujaan dengan bentuk pemberhalaan yang berlebih, sekali-kali bukan. Fakta sejarah berkata demikian. Yi Sun-Sin adalah seorang tokoh, bisa dikatakan pahlawan dari Korea, pahlawannya bangsa Korea. Dia berjasa penuh dalam mengusir pasukan Jepang yang mencoba menyerbu Korea dan menaklukannya.

Singkat cerita di tahun 1592, Jepang melakukan serbuan dan mencoba menjajah negara tetangganya, Korea. Jepang melancarkan serbuan besar sebanyak dua kali, yaitu serbuan pertama pada tahun 1592-1593 dan serbuan kedua pada tahun 1597-1598. Pada tahun-tahun sebelum 1592, Jepang terpecah belah dan terperosok dalam perang saudara berkelanjutan antar Daimyo-daimyo (tuan tanah yang punya kekuasaan dan pengaruh besar) sebelum akhirnya bersatu dibawah pimpinan Oda Nobunaga dan diteruskan oleh Toyotomi Hideyoshi, sosok yang mengawali invasi Jepang ke Korea pada akhir abad ke-16.

Pasukan Jepang menemui banyak kesulitan karena tentu saja pasukan Korea dan rakyat Korea terjun secara sukarela menjadi pasukan bersenjata mati-matian mempertahankan tanah airnya. Dengan keunggulan pemahaman terhadap medan perang, pasukan Korea meluncurkan serangan gerilya dan membuat pasukan Jepang kocar-kacir. Ditambah lagi bantuan dari China yang, sangat-sangat merepotkan Jepang karena sebagaimana yang diketahui, tentara China jumlahnya sangat banyak. Disinilah Yi Sun-Sin, boleh dibilang menjadi "tokoh kunci" dalam kesuksesan Korea menghalau invasi Jepang sehingga Jepang urung menaklukan negeri tetangganya, setidak-tidaknya sampai Restorasi Meiji pada tahun 1861.

Dalam invasi pertama tahun 1592, Yi Sun-Sin ikut dalam 15 pertempuran menghalau armada Jepang yang mencoba mendarat di Korea. Namun pada akhirnya, dalam Pertempuran Busan pada 5 Oktober 1592, meskipun berhasil menenggelamkan banyak kapal Jepang, Yi Sun-Sin gagal menghalau gelombang pasukan Jepang yang datang dan memilih mundur. Kecerdasan Yi Sun-Sin terbukti dalam keputusannya selama perang: Mempersiapkan angkatan laut Korea, mempelajari peta pantai Korea, dan yang membanggakan, Yi Sun-Sin menyempurnakan rancangan Geobukseon atau Kapal Kura-kura yang merupakan kapal berlapis baja pertama di dunia!

Gambar Geobukseon. Yang berlapis baja hanyalah bagian atas kapal, sehingga aman dari serangan anak panah. Sumber  gambar: Antiquealive.com

Geobukseon memainkan peranan penting dalam perang, karena pasukan Korea menggunakan kapal ini untuk memutus jalur logistik pasukan Jepang. Sehebat-hebatnya tentara, tidak akan ada artinya bila tidak ada makanan, amunisi, obat-obatan, dan logistik penunjang lainnya. Yi Sun-Sin membaca betul situasi ini, ditambah lagi dengan fakta bahwa antara Korea dan Jepang dipisahkan oleh laut, dan untuk menghambat atau mengalahkan Jepang, Yi Sun-Sin harus mengalahkan Jepang di laut. Setelah Pertempuran Busan yang menjadi pertempuran laut terakhir dalam invasi pertama, praktis Yi Sun-Sin mundur dan ikut bertahan ketika pasukan Jepang berhasil menerobos daratan Korea. Pada 23 Juli 1593, pasukan Jepang gagal mengepung benteng Jinju dan memilih mundur setelah keadaan yang tidak memungkinkan, ditambah lagi adanya ancaman dari China yang akan mengirimkan 400.000 tentara. Jelas pasukan Jepang tidak akan sanggup dengan stok logistik yang menipis.

Dalam invasi kedua pada 1597-1598, Jepang menyadari bahwa selama Yi Sun-Sin tidak dilenyapkan, maka mereka tidak akan leluasa menyerang Korea sebab Yi Sun-Sin terlalu kuat untuk dikalahkan di laut. Salah satu rencana yang paling jitu adalah menjalankan tipu muslihat, divide et impera, membuat Yi Sun-Sin dipenjara oleh rajanya sendiri. Jepang mengirimkan Yoshira, seorang agen ganda yang menyusup dalam istana Joseon. Yoshira berhasil meyakinkan Kim Gyeong-Seo, Jenderal Joseon, bahwa akan ada serangan besar-besaran di Chilcheollyang. Maka dengan berbekal informasi itu, Raja Korea memerintahkan Yi untuk menghadang tentara Jepang disana.

Yi menolak. Katanya, tidak mungkin tentara Jepang melancarkan pendaratan secara besar-besaran di tempat yang tidak memungkinan. Penolakan Yi terhadap titah jelas membuat Raja murka. Yi Sun-Sin hampir dihukum mati, bahkan ia sudah mengalami penyiksaan-penyiksaan hingga pada akhirnya orang-orang penting istana menyelamatkannya karena Yi "tidak boleh mati sia-sia" dan "masih berguna" untuk melawan Jepang. Yi Sun-Sin pun dibebaskan dan diturunkan menjadi tentara rendahan serta dibawah komando Won Kyun.

Mengetahui Yi Sun-Sin tidak menjabat sebagai pemimpin angkatan laut, pihak Jepang lantas mengerahkan kekuatan habis-habisan. Mereka tetap menyerang Chilcheollyang, dan meraih kemenangan besar disana. Kemenangan di Chilcheollyang menjadi pembuka bagi Jepang untuk melancarkan invasi kedua. Angkatan Laut Korea hancur lebur karena dalam Pertempuran Chilcheollyang, kapal Korea yang selamat hanya 12 buah saja. Ditambah dengan satu kapal yang tidak ikut pertempuran, maka total jumlah kapal di Korea hanya 13 saja!

Jelas Jepang semakin leluasa berlayar di laut dan mengirimkan suplai logistik untuk pasukannya. Raja Korea menyadari dan mulai menyesal. Yi Sun-Sin kembali diangkat untuk memimpin Angkatan Laut Korea setelah berhasil meyakinkan Raja yang pesismis melihat keadaan kapal yang hanya tersisa 13 buah, karena sebelumnya Raja hendak membubarkan angkatan laut.Yi Sun-Sin berhasil meyakinkan raja bahwa bersama dengan 13 kapal yang tersisa, Jepang tidak akan mampu berlayar dengan bebas. Pada akhirnya, dalam Pertempuran Myeongnyang, sisa 13 kapal angkatan laut korea berhasil menghadang dan mengalahkan 330 kapal Jepang.

Setelah itu, perang kembali berkecamuk sengit, hingga akhirnya Angkatan Laut Korea kembali pulih dan Korea berhasil memproduksi banyak kapal. Dengan bantuan Dinasti Ming China, perlahan pasukan Jepang mundur karena kekurangan logistik, ancaman invasi besar-besaran dari China, dan meninggalnya Toyotomi Hideyoshi sebagai pemimpin Jepang yang memulai perang dengan Korea pada tanggal 18 September 1598. Di Selat Noryang, Pertempuran menentukan terjadi. Meninggalnya Hideyoshi membuat Jepang mengurungkan niat melanjutkan perang dengan Korea, namun fakta bahwa masih ada tentara Jepang yang tersisa di Korea dalam keadaan terkepung dan ditutup rapatnya informasi kematian Hideyoshi, membuat situasi mencekam.

Yi Sun-Sin bersama Chen Lin, Laksamana dari Dinasti Ming, merundingkan nasib tentara Jepang yang terkepung tersebut. Chen Lin sudah sepakat untuk membebaskan tentara yang tersisa, sementara Yi tidak. Menurut Yi, melepaskan mereka akan mengundang bencana. Karena keputusan Yi ini, Jepang mengirimkan 300 kapal untuk menyerang pasukan Yi dan terjadilah Pertempuran Noryang. Di Pertempuran ini, Yi Sun-Sin menghembuskan nafas terakhir setelah bahu kirinya tertembak. Sadar bahwa lukanya sangat fatal dan tak terselamatkan, Yi Sun-Sin berpesan pada anaknya, Yi Hoe dan keponakan laki-lakinya, Yi Wan, "Perang sedang dalam titik tersengitnya. Pakalailah baju pelindungku dan tabuhlah terus gendang perang. Jangan siarkan kabar kematianku."

16 Desember 1598 menjadi akhir dari keganasan Yi Sun-Sin di laut, sekaligus penutup dari serangan Jepang ke Korea. Jepang harus merasakan pil pahit karena upayanya menguasai Korea digagalkan oleh kelihaian, kejeniusan, dan keperkasaan Yi Sun-Sin dilaut. Yi Sun-Sin disebut-sebut sebagai laksamana terbaik di dunia dan kerap disandingkan dengan Horatio Nelson, Laksamana dari Inggris yang memenangkan Pertempuran Trafalgar yang fenomenal.

Empat ratus sembilan belas tahun setelah kematian Yi Sun-Sin, Shanghai Moonton Technology merilis hero baru untuk permainan Mobile Legend mereka. Yi Sun-Sin, hero tipe marksman. Kini apabila mengunjungi mesin pencari seperti google atau mesin pencari lainnya, orang-orang—khususnya masyarakat Indonesia—mungkin lebih mengetahui sosok Yi Sun-Sin sebagai sosok marksman di mobile legends ketimbang Laksamana Angkatan laut terbaik di dunia. Hal tersebut tidak salah, zaman selalu berubah. Mungkin suatu hari nanti, masyarakat Rwanda atau Honduras akan lebih mengetahui sosok Bung Karno sebagai karakter game paling "jago" dan "sakti" ketimbang sosok pahlawan pembebas bangsa yang tiada gantinya. 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.