Header Ads

Lubang dan Yorktown

Sumber Gambar: TheHistoryTrekker


Terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat mungkin bagi beberapa penduduk Amerika dan juga beberapa penduduk Dunia adalah sebuah lelucon terbaik pada abad kedua puluh satu ini. Sudah begitu banyak gerak-gerik dan tingkah laku serta tweet nyentrik yang disuguhkan oleh Presiden Amerika ke-45 ini. Gebrakan demi gebrakan dilakukannya untuk mewujudkan janji kampanye yang sekaligus menjadi jargon utama pemerintahannya, Make America Great Again. Memang selama hampir satu tahun semenjak tulisan ini dibuat—tanggal dua puluh Januari nanti genap satu tahun— Trump banyak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang sangat-sangat memihak pada penduduk Amerika. Sampai-sampai banyak yang mengatakan bahwa Trump ingin menanamkan nilai-nilai fasis dan ultranasionalis pada penduduk Amerika yang dikenal heterogen dan multikultur, serta yang paling utama adalah terbuka bagi segala bangsa. Home of All Nations.

Kamis 11 Januari 2018, Donald Trump mengadakan rapat tertutup dengan anggota senat Amerika. Rapat tersebut membahas tentang kebijakan perlindungan bagi imigran dari sejumlah negara Afrika dan Amerika Latin—khususnya Haiti dan El Salvador. Dalam rapat itu, sejumlah Anggota senat mengatakan bahwa Trump menyebut sejumlah Afrika dan sejumlah negara Amerika Latin sebagai "shithole" atau sebuah umpatan kasar yang bisa dipadankan sebagai "Lubang kotoran".

"Mengapa Amerika harus menerima orang-orang dari negara lubang kotoran itu datang ke tempat kita?" Demikian kiranya Trump melontarkan umpatan kasar tersebut. Sebelum perkataan rasis Trump tersebut, tepat hampir satu tahun lalu atau hanya beberapa saat setelah dilantik, Trump langsung membuat kebijakan kontroversial dengan melarang masuknya warga negara dari Iran, Irak, Libya, Somalia, Sudan, Yaman, dan Suriah. Kecaman dan cacian langsung saja terima oleh Trump. Terakhir—dan yang paling seru— Trump secara sepihak mendeklarasikan bahwa Amerika mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel. Padahal, status Yerusalem sebagai ibukota Israel—termasuk bagi Palestina— masih dipertentangkan. Dengan cepat PBB mengambil respon dan mengeluarkan resolusi yang isinya menolak klaim Trump tersebut. Terjadilah perang dingin antara Trump dan anggota Dewan Keamanan PBB serta sebagian besar anggota PBB. Sampai-sampai Trump mengancam akan menghentikan bantuan bagi negara mana saja yang tidak sejalan dengan kebijakan Amerka.

Ancaman Trump terhadap negara yang tidak sejalan dengannya itu jelas mencerminkan dibalik frasa Make America Great Again ada sebuah agenda tersembunyi yang sedang dijalankan. Bisa jadi Amerika pada era-Trump ini sedang giat-giatnya melebarkan pengaruh Neo-imperalisme di negara-negara berkembang bahkan negara maju sekalipun. Namun jika melihat fakta sejarah, Amerika sejatinya tidak sedang berusaha menjalankan praktik Neo-imperalisme. Praktik Imperalisme terbuka memang sudah dijalankan Amerika Serikat dan bisa dilihat dari agresi-agresi militer Amerika yang ditujukan pada beberapa negara seperti Irak, Afghanistan, Panama, Grenada, dan Haiti. Jika menilik lebih jauh, sejarah juga mengungkap bahwa Amerika Serikat dengan Imperalisnya menjajah Filipina pada tahun 1898 setelah sebelumnya berjuang meraih kemerdekaan dari pendudukan Spanyol yang sudah berlangsung hampir empat ratus tahun.

Doktrin Monroe muncul pada tahun 1823 juga menguatkan kedudukan Amerika Serikat sebagai bangsa yang Imperalis. Doktrin Monroe dipakai sebagai tameng Amerika untuk melindungi negara-negara yang ada di Amerika, padahal —lagi-lagi— sejarah membuktikan bahwa Amerika mendapatkan wilayah yang sekarang ini disebut sebagai negara bagian California, New Mexico, Arizona, Nevada, Utah, dan Colorado dari perang melawan Meksiko. Tak lupa Amerika juga mendapatkan Texas karena penyebab perang melawan Meksiko adalah intervensi Amerika terhadap perang kemerdekaan Texas. Texas dianeksasi oleh Amerika dan kemerdekaan yang diimpikan rakyat Texas sirna.

Dengan segala catatan sejarah tersebut, tidak heran lagi Amerika bisa bertindak adikuasa dan imperalis di zaman yang damai dan semakin beradab ini.  Tidak perlu kaget jika Trump mengatakan Afrika dan Amerika latin sebagai "lubang kotoran", karena Amerika bisa melakukan hal yang lebih dari hanya sekedar memaki rasis. Sewaktu-waktu Amerika bisa menginvasi negara yang tidak sejalan atau menghalangi tujuan nasionalnya. Membuat sebuah alasan fiktif seperti kepemilikan senjata kimia oleh Irak dan kemudian menginvasi negara tersebut atas nama perdamaian.

"Mengapa Amerika harus menerima orang-orang dari negara lubang kotoran itu datang ke tempat kita?"  Ucapan Trump tersebut cukup menarik. Amerika cukup beruntung kala Benjamin Franklin datang ke Perancis untuk "mengemis" bantuan guna membantu perjuangan patriotik kemerdekaan Amerika. Selain karena Amerika pandai memanfaatkan situasi dengan mengajak Perancis yang kalah dalam Perang Tujuh Tahun dan kehilangan sebagian besar wilayah New France di Amerika serta mengajak Spanyol yang melemah setelah Perang Suksesi Spanyol dan kehilangan Gibraltar, Belgia, dan Naples, sebenarnya faktor keberuntungan juga bermain.

Tidak bisa dibayangkan apabila Raja Louis XVI mengadakan sidang dengan para petinggi Kerajaan dan mengucapkan pernyataan, "Mengapa Perancis harus membantu dan menumpahkan darah untuk orang-orang pelarian, miskin, dan mungkin kriminal yang terbuang di Amerika itu? Padahal kita punya Spanyol yang kuat dan juga Portugal untuk menghentikan dominasi Inggris Raya!"

Sejarah lagi-lagi menunjukkan fakta menarik. Amerika Serikat mungkin saja tidak akan merdeka jika tidak menerima bantuan Perancis dan Spanyol. Dalam Perang Kemerdekaan Amerika, selain para pejuang patriotik Amerika yang bertempur mati-matian, peran para tentara Perancis dan Spanyol juga ada dan bahkan memainkan peran penting. Dalam Kampanye di Yorktown(Virginia), jelas betul peran Perancis dalam mengusir "penjajah"  Inggris Raya. Delapan ribu tentara Perancis ikut serta dalam pengepungan menentukan di Yorktown dan meraih kemenangan untuk mengakhiri dominasi Inggris di Amerika. Kemenangan di Yorktown memulai proses perdamaian hingga berujung pada Perjanjian Paris pada tahun 1783 yang mengakhiri Perang Kemerdekaan sekaligus pengakuan kedaulatan terhadap Amerika Serikat. Kemurahan hati Raja Louis XVI berperan besar dan syukur saja Raja Louis XVI tidak mengumpat kepada Benjamin Franklin.


Masa pemerintahan Trump masih panjang. Amerika Serikat bukanlah negeri buta sejarah. Mereka fasih betul terhadap sejarah yang terjadi pada negeri sendiri dan juga dunia. Berharap saja hati Trump melunak dan bisa merasakan kemurahan hati yang diberikan oleh Raja Louis XVI pada Benjamin Franklin tiga ratus tahun yang lalu.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.