Header Ads

Kubu To The Point vs Kubu Ribet

Ilustrasi pertentangan kubu to the point vs kubu ribet
Sumber:http://wallpapersafari.com/w/4mr5f8/


Judul yang membingungkan, sekaligus provokatif dan cenderung memihak salah satu pihak. Judul tulisan ini sangat jelas menyatakan keberpihakan penulis pada kubu to the point. To the point atau kalau dalam bahasa Indonesia bisa kita artikan dengan sederhana sebagai 'langsung pada intinya'. Makna itu jelas punya nilai positif, sekaligus memberikan citra amat negatif bagi kubu lawan, yang tak lain tak bukan adalah kubu ribet. 'Ribet' bisa disinonimkan dengan kata rumit, repot, sulit, maupun sukar. Kelompok kata-kata yang disebutkan tadi memiliki makna yang menjelaskan adanya hambatan dalam menyelesaikan sesuatu.


Segala sesuatu di dunia memiliki kontradiksi


Yang namanya hambatan, pasti dibenci semua manusia. Jarang penulis temukan ada orang yang sangat mendambakan datangnya sebuah hambatan ketika ia akan berangkat ke bank untuk mengambil uang. Hal ini sekaligus memberikan kontradiksi, bahwa ada juga manusia yang menyukai hambatan. Tak jarang penulis lihat ada pelajar yang mengharapkan kedatangan gurunya menuju dalam kelas terhambat. Entah sang guru mendadak mendapat panggilan ke luar negeri, atau ikut wajib militer luar biasa.

Pisau bermata dua, bermata tiga, bermata empat.

Ini berarti, jika segala sesuatu memiliki kontradiksi, dan BOOOM! Maka kubu to the point bukanlah kubu yang benar-benar mencitrakan sesuatu yang positif. Ada bayangan negatif juga dalam ideologi yang dianut oleh kubu to the point, Kubu yang penulis agungkan itu, sampai mendapat citra baik dalam judul tulisan.

Contoh kecil, kita tidak bisa sembarangan to the point menceritakan keburukan yang dimiliki seseorang. To the point disini sangat jelas adalah kita langsung blak-blakan menceritakan keburukan itu di depan orang itu sendiri. Komunikasi langsung, komunikasi tanpa hambatan serta tanpa perantara. Langsung menusuk  jleb menuju inti keburukan.


Bagi penganut idealis akut, hal itu memang baik. Mereka akan mengharapkan sang pemilik keburukan mau intropeksi dan memperbaiki keburukan yang dimilikinya. Tapi, kagak sesederhana hidup itu, tjoy.
Sang pemilik keburukan juga punya ideologinya sendiri. Bahkan, apa yang kita pikir 'buruk' belum tentu 'buruk' bagi si pemilik keburukan itu.


Dunia bukan hanya tentang pandangan kita

Pandangan bukan hanya pada mata. Jika seseorang yang di dalam ruang gelap tak melihat cahaya, maka ia katakan 'tak ada cahaya di dunia ini'. Itu pernyataan salah. Nyatanya, dunia tak sesempit ruang gelap itu. Ada alam semesta, ada superkluster lokal, ada superkluster, ada gugus galaksi lokal, ada gugus galaksi, ada sistem gugusan tata surya, ada tata surya, ada bumi, lalu ada benua, ada negara, ada provinsi, ada kota, ada kecamatan, ada kelurahan, ada RW, ada RT, barulah sampai pada ruang-ruang spesifik.

Kalaupun lagi dia bilang 'tak ada cahaya disini' itu pun tidak tepat. Bisa jadi sistem matanya terganggu. Dia buta. Atau bisa jadi dia berhalusinasi. Sistem syaraf yang mengatur penglihatannya termanipulasi. Lalu, dia kembali mengatakan hal yang lebih spesifik lagi 'tak ada cahaya disini, saya buta' maka juga tidak tepat. Bisa jadi ia mengalami waham kebutaan. Akibatnya, ia berdelusi. Delusi memanipulasi otak, otak sistem utama kerja mata.

Pelbagai macam 'bisa jadi' adalah bagian dari pandangan yang dimiliki oleh manusia. Semua manusia punya pandangan terhadap berbagai hal di alam ini. Jangan lupa, kebenaran tercipta karena persetujuan banyak manusia. Kenapa untuk mendefinisikan jumlah huruf 'i' pada kata 'ikan' harus memakai angka '1'? mengapa tidak '2'? atau simbol yang lebih keren gitu?

Begitu juga sang idealis (akut) yang menghakimi seseorang dengan lekatan 'buruk'. Belum tentu orang yang ia lekatkan dengan cap 'buruk' itu memang benar-benar buruk. Bahkan, yang lebih menggelikan, orang yang dicap buruk oleh si idealis (akut) ini malah balik melekatkan sebutan 'buruk' itu kepadanya!

Seperti permainan pingpong, saat menuduh, kita akan dituduh balik
sumber:https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiLWjw217xu1NTVKrbIj2hqsP6PHmx4DcOYcENSgTHr_M1deYsi2vcLuwdY_xFYp63eohchlctS4EnmGVBUoOWo0AUOH_cP0NjfKTjsP_AXJqM_yGQ4Mj8rsuN2Iqh_mEvcTyYbQDZ4rcw/s1600/Tenis-Meja.jpg

Pong, ping pong pung. Seperti pingpong. Saling balik membalikkan. Balik membalikkan sebuah lekatan, sebuah sebutan 'buruk'

**********

Menghargai Eksistensi


Jadi, setelah direnungkan, judul diatas justru menunjukkan betapa penulis menganggungkan adanya perbedaan ideologi. Dan penulis sangat menghargai eksistensi Kubu Ribet. Karena , kubu ribet memiliki pertimbangan yang amat mendasar dalam memilih ideologi bagi kelompok mereka. Tapi memang, harus kita akui, adanya keberadaan masyarakat dalam tatanan kehidupan juga sangat berpengaruh dalam melebarkan sayap-sayap ideologi. Nah! kubu to the point sukses besar mengambil hati masyarakat.

Memang ada masyarakat mau ribet? Selamat berjuang, emerat Ribet! (emerat, bahasa epegana untuk kata 'pejuang', red)


1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.