Header Ads

Kesalahan Bernalar dan Berlogika Buat Tanjung Balai Membara



Source gambar: http://bbc.com , milik: Alam Zhulanto

Kerusuhan bermuatan agama lagi dan lagi terjadi di Indonesia. Memang agama seperti barang 'hot' bagi para pelaku bisnis provokasi dalam menjalankan kegiatan dagangnya. Ditambah lagi, budaya jelek kebanyakan masyarakat Indonesia yang gemar menyamaratakan satu pihak dengan pihak lainnya, makin gampang dikompor hingga meleduk, bum! Kerusuhan agama kali ini terjadi di Sumatera Utara, tepatnya di Kota Tanjung Balai. Dua kelompok agama bersinggungan dan menyebabkan kurang lebih, sekira 6 rumah ibadah terbakar.

Perlu diketahui, Kota Tanjung Balai sebelum sekarang, juga pernah mengalami kerusuhan antar umat beragama, khususnya dengan umat Tionghoa. Tepatnya, Tanggal 27 Mei 1998.

Saat itu di Tanjung Balai, sentimen Anti Tionghoa terjadi dengan alasan yang rasional, bukan kebencian buta dengan etnis Tionghoa. Hal itu ditenggarai karena waktu itu, warga Tanjung Balai merasa diteror tokoh mafia Suwandi Salim alias Abie Besok Gembok yang juga keturunan Tionghoa. Mengamuklah warga Tanjung balai, dan menyamakan semua orang Tionghoa itu mafia seperti Abie. Tidak semua orang Tionghoa itu mafia, dan pemerintahan saat itulah yang salah karena membekingi mafia tersebut. 

Kasus kerusuhan sekarang, punya kemiripan akar masalah yang sama dengan kerusuhan terdahulu, yaitu sama-sama menyamaratakan sifat seseorang dengan kelompoknya.

Awal kerusuhan di Tanjung Balai pada tanggal 30 Juli 2016, disebabkan seorang wanita Tionghoa, marah-marah karena suara adzan yang katanya menganggu telinga. Jelas ucapan wanita itu menyakiti umat muslim, tidak toleran dan mengharai umat, tapi ingat, hanya wanita itu yang menyakiti. Bukan semua Tionghoa seperti wanita itu. Apa baut, kebanyakan orang sekarang gemar menyamaratakan sifat dan tingkah seseorang dengan kelompoknya, menganggap sifat dan tingkah seseorang mewakili kelompoknya. Maka jadilah beberapa warga Tanjung Balai menganggap semua Tionghoa itu penghina islam (sama seperti pada kejadian 27 Mei '98 dimana beberapa warga Tanjung Balai menganggap semua Tionghoa itu mafia) hingga mengamuk lalu membakar 6 rumah ibadah.
Adapun wanita Tionghoa itu, sama saja. Dengan menganggap semua muslim mengganggu telinga, ditambah lagi dengan keadaan mencekam di Tanjung Balai, jadilah ia menganggap umat muslim selain berisik, juga ganas. Padahal, tidaklah umat muslim ingin menganggu, tidak ada. Inilah pentingnya rasa toleransi, tapi lagi, budaya saling menyamaratakan dan menghakimi suah kuat dalam darah daging masyarakat.

Jadi, pada akhirnya sama saja. Baik wanita Tionghoa itu, maupun beberapa masyarakat Tanjung Balai yang merusak rumah ibadah, sama-sama tukang menghakimi dan menyamaratakan.
Hal-hal yang seperti itu, adalah penyakit mental dan logika yang berbahaya.
Budaya gemar menyamaratakan sifat dan tingkah laku seseorang dengan kelompoknya, secara tak langsung menghantarkan kehancuran bagi bangsa.

Hal ini disebut dengan Logical Fallacy: Composition/Division atau kesalahan berlogika dan bernalar, dimana sesuatu yang berlaku pada bagian dari suatu sistem, juga berlaku untuk keseluruhan sistem itu.

Contoh nyatanya, dari kerusuhan ini.

Pertama, ketika sang wanita Tionghoa yang menganggap bahwa adzan yang dikumandangkan umat islam itu mengganggu dan berisik. Jadi, semua umat islam dianggapnya sama, berisik dan menganggu. Padahal, bukan hanya adzan saja yang dapat menggangu dan berisik, dan lagi tidak semua umat islam itu penganggu dan berisik. Dan perlu diketahui, adzan tidak pernah menganggu dan berisik! Adzan adalah panggilan suci untuk shalat. Rasa toleran wanita itu dipertanyakan. 

Kedua, beberapa warga Tanjung Balai menyamakan semua orang Tionghoa seperti wanita itu, penghina islam. Padahal, tidak semua Tionghoa itu penghina islam. Nyatanya, ada orang Tionghoa yang islam! Nyatanya, budaya bernalar masih rendah di masyarakat Indonesia.

Hal ini awalnya hanya bentuk kesalahpahaman. Namun, provokator memanfaatkan rendahnya budaya bernalar masyarakat hingga akhirnya, kedua pihak mudah diadu domba. Hal inilah yang harus menjadi perhatian lebih, sebab dengan akal kita mampu menentukan mana yang baik, mana yang benar. Penulis memakai kata "beberapa warga Tanjung Balai" juga karena penulis yakin, tidak semua warga Tanjung Balai ikut kerusuhan, membakar rumah ibadah, dan menghakimi orang Tionghoa.
Dan yang terpenting, harus dipahami, kenyataan di tulisan beda dengan kenyataan sebenarnya.
Semoga kedepannya, Indonesia selalu aman. Amin

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.