Header Ads

Pelajaran dari kerusuhan supporter sepakbola di GBK

Sumber Gambar: pojoksatu.id



Dalam memahami sebuah masalah agar tercapai sebuah kebenaran itu harus dari sudut pandang objektif. Tidak bisa berat sebelah dan sepihak. Apalagi kalau ada sesuatu yang diluar kebiasaan, harus diselidik. Negeri Indonesia tercinta kembali diterpa masalah kerusuhan antar supporter sepakbola. Kali ini, theater kerusuhan meningkat, karena terjadi antara Suppoter dengan kepolisian. Sebenarnya, masalah suporter Indonesia (yang kali ini pemeran utamanya adalah The Jak) yang rusuh dengan polisi, itu janggal.

Supporter The Jak yang menjadi garda terdepan dalam mendukung kesebelasan ibukota Indonesia, Persija Jakarta memang sudah dikenal seantero negeri sebagai kelompok supporter yang kerap menimbulkan kegaduhan. The Jak rusuh itu biasa, tapi kalau dengan polisi itu baru luar biasa. Ada apa? The Jak itu musuh alaminya bonek, bobotoh, dan pihak-pihak suporter yang mendukung keduanya (bonek dan bobotoh) Polisi? Tidak. Mereka sadar bahwa setiap perbuatan anarkis mereka itu salah. Kalau ada polisi yang mengejar maka secara alamiah mereka akan lari. Kalau tertangkap pasrah, itu dia logikanya.
Tapi kalau polisi menangkap mereka sambil memukul (walau sebenarnya pantas , karena ulah mereka yang diluar nalar. Akan tetapi hukum ditegakkan melalui asas praduga tak bersalah) maka mereka pasti marah. 'Preman' dibantai karena berulah diluar batas itu wajar, tapi tidak semua masyarakat itu Preman. Itu asas yang harus dianut.

Karena Kebudayaan Masyarakat Indonesia Yang Suka Mencap dan Menghakimi

Sebagian besar The Jak memang bertindak primitif, tapi tidak semua. Tapi karena kebudayaan masyarakat Indonesia yang suka mencap dan menghakimi , maka semua disama ratakan. Akibatnya apa? Chaos.
Kasus kerusuhan The Jak yang terjadi saat laga Persija vs Sriwijaya memang ada yang janggal. Karena the jak menyerang polisi. Kenapa? Ada oknum provokator. Apa yang diprovokasi?

Sekitar tanggal 15 Mei 2016, salah satu Suporter The Jak Tewas dipukuli oleh oknum yang diduga adalah polisi. Ini dia pangkal masalahnya. Justru pada kasus itu, The Jak melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan masyarakat sekarang. Menghakimi dan mencap.
'Diduga' itu masih belum pasti, dan kasus terbunuhnya suporter mereka itu masih dalam tahap penyelidikan. Tapi apa? Tidak objektif, berat sebelah, dan langsung menghakimi. Itu dia penyakit mental sebagian besar masyarakat Indonesia.

Akibatnya apa? Gampang dikompor, dileduk-ledukin, dan jadilah chaos. Hikmah dari kejadian ini , bahwa jangan pernah berpihak dalam menegakkan keadilan. Gunakan asas-asas hukum yang ada dan berpikir serta berperasaan jernih.

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.